Sesuatu

“Lo suka nulis ‘kan?” Alfred menyerahkan tablet miliknya pada Eartha. “Coba lo tulis sesuatu.”

Eartha menatap layar yang putih dan kosong. Dia menggoyangkan pena stylus di tangannya sebentar saat berfikir. Dia kemudian menyentuhkan ujung stylus pada layar dan mulai menulis.

Ada waktu-waktu dimana aku tak bisa melupakan kedua matamu.
Ada waktu-waktu dimana aku tak bisa melupakan senyumanmu. Senyuman yang kubayangkan sudah bersamamu sejak kau kecil.
Aku harap aku mengenalmu sejak lama.
Mungkin jika aku menciummu saat kita berumur 6 tahun, kau tak akan marah padaku.
Mungkin jika aku memiliki lebih banyak energi, aku akan selalu melindungimu. Malaikat tak sempurna yang akan selalu mencintaimu.

Aku tak akan peduli pada semua dugaan yang muncul di pikiranmu saat ini.
Karena aku tak khawatir jika kau tahu betapa aku sangat mencintaimu.
Aku sudah terlalu tua untuk menahan semua pendapatku tentangmu.
Jadi aku menggoreskan huruf-huruf ini, dan aku akan menyerahkannya padamu, dan kau akan tahu…

Alfred…

Aku mencintaimu.

Eartha menghela nafas dan menatap kosong pada meja. Dia ingin menyelesaikan makanannya sekarang. Dia melirik pada Alfred sebentar.

Sial.

Senyuman itu lagi.

“Udah?” Alfred bertanya.

Eartha tersenyum pada tablet yang ditulisinya dan menegakkan tubuhnya. Dia menatap Alfred dan menyerahkan kembali tablet itu padanya.

Kini dia siap melanjutkan hidup dengan perasaan yang membebaskan tentang orang yang dicintainya.

Iklan

Hot Chocolate

Saat aku berjalan di trotoar itu pukul 11:23 malam, aku berpikir, “Ini adalah waktu tepat untuk mencoba tidur.” Karen O pastilah masih bersenandung di kamarku, melalui pemutar mp3, dalam volume rendah. Tapi aku meninggalkannya sekitar sepuluh menit lalu. Aku mengenakan sepatuku dan menyelinap keluar lewat jendela.

Ini bukan pertama kali aku menyelinap dan melompat lewat atap. Sebenarnya ini yang kedua kali. Tapi aku suka berpura-pura bahwa aku sudah sering melakukannya. Saat aku pergi dan menatap ke belakang pada rumahku, aku tak tahu apa yang sedang kutinggalkan. Maksudku, umurku sudah 14. Apakah aku sudah punya waktu yang lebih sedikit untuk menemukan apa yang membuatnya layak kurayakan suatu hari? Apakah akan ada seseorang di suatu waktu saat kau bertambah tua yang akan datang padamu dan mengatakan apa yang paling penting dalam hidupmu?

Saat aku menatap kebawah pada trotoar dan langkah sepatuku, kupikir bahwa mereka lah yang paling penting bagiku saat ini. Dan tak butuh waktu lama sampai aku menyadari bahwa hanya itu yang kupunya: beberapa langkahku sendiri.

Kupikir menjadi 14 tahun dan menyelinap untuk berjalan sendirian di malam yang sepi akan membuatku merasa spesial di mata rumahku. Tapi aku justru merasa tak pernah sebebas ini. Seolah kehidupan yang biasa kujalani lah yang sudah bertindak tidak adil padaku, dan mengatakan kebohongan-kebohongan yang kini kutahu itu tidak dapat dibenarkan. Bukan karena itu salah. Tapi karena kehidupan itu bukan seharusnya yang kujalani. Orang-orang selalu berusaha mewujudkan pendapat mereka sendiri dengan mendorong orang untuk memenuhi syarat-syarat yang entah siapa yang memulainya. Sekolah? Pekerjaan? Siapa yang menyuruhmu harus memotong rumput? Siapa yang punya gagasan bahwa orang harus tinggal di rumah yang punya banyak warna dan ornamen? Apakah langit tidak cukup? Apakah bumi tidak cukup? Apakah aku tidak cukup baik bagi mereka?

Aku ingat suatu hari aku berada didalam air di kolam renang dan berpikir, “Semuanya tampak lebih jelas dan nyata disini, dibawah permukaan air yang bergoyang ketimbang diatas, diantara kebohongan ibuku, kebohongan kehidupan, yang menekan seperti angin yang membawa debu-debu kasar. Bahwa mereka sama rapuhnya dengan dahan-dahan yang menua pada pepohonan. Tapi dibawah sini… Aku mendengarkan tubuhku bicara. Aku menatap tanganku dan sadar bahwa aku sedang menatap diriku sendiri untuk pertama kali.” Aku kemudian memejamkan mata dan berpikir, “Dulu kita sama diamnya dengan Tuhan.”

Aku berhenti dan menatap trotoar dibawahku. Aku merasa lelah dan perutku terasa berputar. Aku tahu aku bisa pulang karena itu satu-satunya kemungkinan yang bisa kudapatkan. Tapi bukan karena aku menginginkannya. Bukan karena aku akan mendapatkan kenyamanan disana.
Bukan karena aku akan hidup sebagai diriku disana.

Aku menatap kedepan dan menatap pertigaan. Sebuah mobil sedan melintas. Lalu sebuah SUV abu-abu. Aku menatap lampu-lampu jalan yang bersinar dan diam. Aku merasa berada di tengah-tengah. Aku merasa aku satu-satunya yang saat ini memiliki pilihan. Tapi aku menoleh ke belakang… Aku melihat rumah-rumah yang familiar. Orang-orang disini mungkin bukan tidak memikirkan apa yang terbaik untuk dunia. Tapi mereka hidup untuk menjadikan kesempatan yang jarang untuk tanpa sengaja bertemu denganku menjadi interaksi yang baik dan menyenangkan. Mereka hidup untuk memenuhi syaratku, meskipun aku tak pernah membuatnya. Dan mungkin… Dulu ibuku juga berpikir bahwa dia punya pilihan. Ayahku tidak pergi dengan perempuan lain dan mengambil pilihan itu. Ayahku pergi bersama pilihannya. Dan sekarang ibuku berusaha menghidupkan pilihan lain bagi dirinya. Dan mungkin bagiku, jika sesekali kami mengobrol dan dia mencoba mendengarkan ceritaku.

Umurku 14 tahun. Tapi aku sudah mati di mata Tuhan. Dunia sudah berakhir di mata partikel yang bergerak begitu cepat. Kita adalah bola yang sedang digulirkan. Kita adalah mata malam saat berhenti dan mencoba menerima kenyataan dalam perasaan yang sedih. Kita adalah kumpulan batasan dalam menunjukkan kejujuran. Tapi itu semua sudah berakhir seperti playback yang dihabiskan dalam satu tekanan tombol.

Aku berbalik dan menatap ke kejauhan. Aku tersenyum samar.

Ibu sedang menangis di teras saat aku kembali. Dia mendongak saat mendengar langkah sepatuku memasuki teras.

Dia memelukku dan menangis. Dan juga memukulku.

Dia melihat sekeliling sebelum membawaku masuk.

Aku duduk di kursi makan dan menyaksikan ibu membuatkan secangkir coklat panas untukku. Dia kemudian duduk di depanku dan mendorong cangkir itu ke hadapanku. Aku menyentuh cangkir yang panas itu dengan ujung-ujung jemariku. Aku menatap isinya yang berputar pelan. Aku sadar bahwa bukan aku yang membuat coklat panas itu. Tapi ibuku. Dia melakukan sesuatu yang tidak kupahami. Dan mungkin aku tak akan pernah memahami pilihan-pilihan yang dia inginkan. Dan mungkin itu bukan urusanku.

Jadi aku menatapnya dan tersenyum samar. Karena dia berusaha membuat interaksi, yang sesekali terjadi denganku, menjadi sesuatu yang baik dan menyenangkan.

Hidungku menghirup uap yang harum dari cangkir di depanku. Aku sadar aku lumayan lapar. ♠

Lemon Kehidupan

Raum menatap garis-garis di telapak tangannya. Pendar oranye menyelimuti tubuhnya. Api unggun berkeratakan di tengah lingkaran anak-anak kelas 9.

Dia mendongak dan bertatapan dengan Rasya. Seikat rambut jatuh di dahi anak perempuan itu. Dia kemudian menurunkan pandangan dan menyisir rambutnya ke belakang telinga. Raum memerhatikan sikap kelaki-lakian anak itu dan tersenyum. Rasya melirik dan mengerjap canggung. Dia mengalihkan pandangan ke arah lain sembari menahan senyum.

“Hidup ini penuh paksaan ya,” Raum berucap sembari membenahi alas tidurnya. Cahaya lentera menembus tenda-tenda, menciptakan suasana yang membuat lelah.

“Apa maksud lo, Ting?” Harun menyahut tak acuh sembari mengusap-usap layar menggeser halaman Twitter. Dia masih duduk dekat lubang masuk tenda.

Raum berbaring menghadap dinding tenda dan menatap gerakan-gerakan samar anak-anak diluar. “Yah, lo pengen jadi cowok, tapi dikasih tubuh cewek.”

Anak yang satunya menoleh. “Siapa maksud lo?”

“Ada deh.”

Harun diam sebentar menatap temannya. “Lo suka ya sama Rasya?”

“Jrit! Shut up, lu.”

“Ahahaha Arab Keriting suka ama si Cewek Perkasa manis! Oy, denger, oy!”

Raum menendang lutut Harun. “Gua banting hape lo ntar!”

“Eh, Rom, sejak kapan lu suka ama tuh cewek?”

“Dieemm…” Raum menggeram.

“Kalo gitu Dian buat gue, ya?”

“Lha apa urusannya sama gua?” Raum memejamkan mata.

Harun terkikik pelan dan turun ke belakang telinga temannya. “Dia tuh udah suka sama lu dari dulu, Ting.”

Raum tersenyum menahan malu. “Dih, apa yang dia suka dari gue.”

“Gigi jarang lu, kali. Anak-anak bilang imut, kayak gigi baby. Padahal gue lebih ganteng dari lu dari sisi manapun. Macho, sama sekali nggak keliatan baby.”

Raum menyentuh gigi depannya dengan telunjuk. “Tidur, lu, ah. Berisik.”

“Baby octopus.” Harun menyimpan ponselnya ke ransel dan berbaring di sebelah Raum. Raum tersenyum geli mendengar celotehan teman sekelasnya.

Anak itu mencoba terlelap. Hangat tubuh Harun membuatnya nyaman. Tapi dia membuka mata lagi dan memikirkan seseorang.

 

Aliran anak-anak mendaki landaian. Pohon-pohon menciptakan bayangan-bayangan gelap dan tinggi di sekitar mereka. Dinding bukit menjulan di sau sisi, kemerahan dan tampak lembab. Raum menyentuhnya dan mengusap tanah diantara jemarinya. Dia menoleh ke sebelah dan menemukan Rasya dalam kemeja panjang yang lengannya di gulung.

“Lu nggak bawa jaket?” Raum berceletuk heran.

Anak perempuan itu menoleh dan menatap si anak laki-laki. Dia kemudian hanya mengangkat alis sebagai jawaban.

“Gua bawa sweater di ransel kalo lo mau.”

Rasya memandang anak itu dengan semacam senyuman geli. “Ntar aja kalo udah sampe diatas.” Anak perempuan itu menggeleng samar sambil berjalan mendahului.

Pemandangan dari atas benar-benar pantas dengan perjuanan untuk mencapainya. Pak Win dan konselor kemah Kak Angga menyemangati anak-anak untuk meminum langsung air yang mengalir di sebuah dinding batu. Beberapa anak menampung airnya di dalam botol.

Raum tersenyum pada pemandangan itu, lalu menoleh lagi pada anak-anak yang berfoto-foto ria di pinggir tebing. Anak laki-laki itu duduk di batu dekat sebuah pohon kecil. Pandangannya menelusuri sekeliling, kemudian bangkit dan pergi ke pinggir tebing diantara bebatuan.

Dia menatap kebawah pada hamparan puncak pepohonan yang hijau seperti ladang brokoli. Kabut sesekali mengaburkan pandangan. Jantungnya berdegup merasakan tekanan udara di ketinggian. Dia membasahi bibirnya dan menghirup udara kedalam paru-parunya.

“Rom!”

Anak laki-laki itu menoleh tajam. Udara di dadanya melesak keluar karena kaget.

Dia menatap Rasya tanpa berkata-kata saat anak perempuan itu berjalan mendekat. Dia memerhatikan saat Rasya melepas kuciran rambutnya, melepaskan rambut sepanjang bahu. “Mana sweater yang lo janjiin? Gue kedinginan.”

Raum mengangkat tangannya canggung dan menunjuk pada ransel hitam dekat pohon kecil. “Dia tas gue. Ambil aja sendiri.”

“Males gue meriksa-meriksa.” Rasya maju dan menarik tangan Raum. Raum mengekor saat Rasya menggiringnya ke pohon kecil.

Rasya melepaskan pegangannya. Anak laki-laki itu memerhatikan ekspresi kesal di wajah anak perempuan itu.

“Ambil sendiri aja kenapa sih.” Raum menunjuk pada ranselnya dengan gerakan kepala.

Rasya menatap anak laki-laki itu dengan tatapan kesal. “Jangan kayak banci deh lo.”

“Maksud lo apa?”

Anak perempuan itu diam sebentar sebelum menjawab, “Gua tau lo mau lompat.”

Nafas Raum memburu. “Diem lo…” anak itu berbisik lesu.

“Nggak usah pura-pura, Rom. Semua orang tau lo kenapa.”

Raum melihat sekeliling. Beberapa anak dan Kak Angga menoleh memerhatikan mereka berdua.

Anak laki-laki itu kemudian turun dan membuka ranselnya. Saat berikutnya dia mengeluarkan sweater rajut biru dan menyerahkannya dengan kasar pada Rasya. Anak perempuan itu menerimanya dengan enggan. Dia memerhatikan Raum pergi meninggalkannya. Sweater itu dia lepaskan lagi dengan lesu keatas ransel Raum dan dia menoleh memerhatikan si anak laki-laki berderap menuruni bukti melewati Pak Win dan Kak Angga.

Raum berusaha mengatasi airmata yang mengalir di wajahnya dengan bernafas dalam-dalam. Dia menatap kesal pada jalan tanah di depannya sambil sesenggukan.

Anak itu sampai di belokan dan pergi memasuki rerumputan setinggi lutut. Dia mencabut segenggam rumput dan menggeram saat melemparkannya dengan sia-sia ke depan.

Raum mengusap airmata dengan punggung tangan dengan kesal. Dia kemudian menjatuhkan diri dan duduk disana, menenggelamakn diri dalam pemandangan rerumputan dan pepohonan di hutan di sebelahnya. Anak itu diam disana selama beberapa lama hingga dirinya lebih tenang.

 

“Hidup ini penuh paksaan, ya.”

“Goodbye, Pa…”

Raum mengerjap dan membuka mata. Mimpi itu lagi. Tubuh kakak laki-lakinya, Albert, terkapar dalam posisi yang janggal di jalan aspal setelah sebuah mobil kapsul menabraknya. Semua orang di restoran terbuka itu melihat pemuda itu melakukannya dengan sengaja.

Anak laki-laki itu menatap ke sebelah. Harun belum masuk ke tenda. Suara-suara anak-anak masih terdengar samar di luar.

Raum bangkit duduk, tapi terlalu takut untuk pergi keluar. Kak Angga menyuruh anak itu beristirahat lebih awal setelah pertengkaran dengan anak lain diatas bukit. Mereka pasti menjelaskan padanya apa yang terjadi pada Raum.

Saat itu Harun memasuki tenda sambil menguap. Layar ponsel menyala di tangannya.

“Eh, udah bangun, anak gurita.”

Raum mengernyit samar, bingung harus tersenyum atau merasa kesal. Dia memerhatikan Harun memasukkan ponselnya ke ransel kemudian duduk di sebelahnya.

Harun menghela nafas dan melirik canggung pada Raum. “Kak Angga nyuruh lo baikan sama Rasya, tuh.”

Raum mendengarkan lalu mengangguk-angguk samar. “Dimana Rasya?”

“Kayaknya masih diluar sama Tia sama Dina.”

Raum menatap keluar. Dia menoleh ketika Harun menyentuh lengannya menunjukkan dukungan. Harun kemudian berbaring dan menguap lagi sebelum memejamkan mata.

Anak yang satunya lagi memungut jaket parasutnya dan merangkak keluar. Lutut-lututnya terasa keram ketika mencoba bangkit berdiri. Betisnya terasa menegang karena perjalanan hari ini.

Dia melihat ke tanah yang lebih tinggi di sebelahnya. Api unggun masih menyala. Anak itu berjalan dan mendekati cahaya.

Disana dia menemukan beberapa anak perempuan saling mengobrol. Rasya duduk di ujung diatas batang kayu. Anak perempuan itu menoleh saat menyadari kehadiran anak lain.

Raum menatap anak itu dengan canggung. Emosi negatif kembali mengisi dadanya. Tapi dia menghela nafas dan berkata pelan, “Gue mau ngomong sama lu.”

Rasya menoleh canggung pada teman-temannya. Dia kemudian mengangguk-angguk dan bangkit sembari berpamitan pada anak-anak perempuan lain.

Raum melirik dan mendapati Dian menatapnya sambil merapatkan bibir. Anak perempuan itu tersenyum malu dan membuang pandangan kearah api. Si anak laki-laki memerhatikan saat Rasya berjalan menuruni bukit mendahuluinya. Dia menoleh sekali lagi pada Dian sebelum berlari kecil mengikuti Rasya.

Angin bertiup lembut membekukan jemari. Raum memasukkan kedua tangannya ke kantong jaket. Dia menatap ragu ke sebelahnya. Rasya memasukkan kedua tangannya ke kantong jaketnya sendiri.

“Udah deh, nggak usah lama-lama, gue minta maaf,” Raum berkata. “Biar cepat selesai.”

Rasya menatap anak laki-laki itu mengernyit. “Kok gitu?”

“Gue nggak enak sama Pak Win. Dia udah nombok buat biaya camping kita.”

“Ya itu terserah dia.”

“Kok lo ngomong gitu sih? Pak Win itu udah bela-belain-…”

“Nggak ada yang nyuruh dia juga.”

Raum menatap heran pada anak di sebelahnya. “Kok lo bisa-bisanya sih ngomong kayak gitu? Lo nggak punya hati, ya?”

“Gue orangnya pragmatis, Rom. Ngerti nggak lo? Terserah orang mau ngapain aja, yang penting nggak ngerugiin yang laen.”

“Lo nggak ngerti hidup, Ras. Hidup itu penuh paksaan. Bapak gue terpaksa convert dari Yahudi ke Kristen cuma supaya bisa kerja di Indonesia dan ngasih makan keluarganya. Abang gue…” Raum menarik nafas dalam, tak menyelesaikan kata-katanya.

Rasya menatap anak laki-laki itu. Dia kemudian bertanya dengan nada yang lebih lembut, “Kenapa sih abang lo? Kok sampe bunuh diri gitu?”

“Bapak gue sempet mau bawa kita semua balik ke Israel. Supaya punya uangnya, dia bikin kesepakatan sama rekan bisnisnya. Anak perempuan tuh orang udah hampir 40 dan belum nikah.” Raum menoleh pada Rasya dengan tatapan benci. “Lo bayangin punya seseorang yang lo sayangi, tapi lo dipaksa kawin sama orang lain yang sama sekali nggak lo kenal dan jauh dari usia lo. Hanya supaya Bapak lo dapet tender.”

“Jadi…saat itu abang lo udah punya pacar?”

“Gue udah nganggap pacarnya itu kakak gue sendiri, Ras. Gue tau mereka udah ngelewatin banyak hal dan sayang banget satu sama lain. Lo nggak tau perjuangan abang gue supaya bisa mencukupi dirinya sendiri dan pergi dari rumah. Tapi dia baru lulus SMA. Bisa apa dia.”

“Dan Bapak lo tetep maksa?”

“Mereka ngebahas hal yang sama tiap kali ketemu. Bahkan saat terakhir kali kita makan bareng satu keluarga sama adek gue yang masih bayi. Gue bersyukur adek gue saat itu masih bayi, dia belum ngerti apa yang dia lihat malam itu.” Raum menatap kosong pada pepohonan gelap di sebelahnya. Dia kemudian menoleh sekilas pada Rasya dan melanjutkan, “Abang gue nggak tahan sama paksaan Bapak gue. Dia bangkit dan langsung pergi ke jalan. Kita nyoba nyusul. Gue masih kelas 6 SD saat itu. Mommy gue nahan gue supaya nggak ngedeketin Albert.” Anak itu menggeleng. “Dan saat itu kita semua ngeliat… Abang gue…”

Rasya buru-buru memegangi tangan Raum saat anak laki-laki itu tampak akan menangis. Sejenak Raum menggenggam erat tangan anak perempuan itu, tapi kemudian mendadak melepaskannya lagi.

Kedua anak berhenti. Raum bergerak-gerak gelisah mengatasi rasa frustrasi yang bergulung di dadanya.

Dia mundur dan berdiri menghadap Rasya. Anak itu menggeleng saat berkata, “Lo nggak tahu hidup itu kayak apa, Ras.”

“Dan lo tau, gitu?’

“Ya, gue udah bilang tadi. Hidup itu penuh paksaan.”

“Bukan gitu yang gue rasain. Gue juga udah bilang, gue orangnya pragmatis.”

“Apa sih maksud lo? Lo sendiri lihat! Lo pasti pengen kan jadi cowok? Tapi lo dengan sialnya terjebak di diri seorang cewek yang dianggap nggak penting sama cewek-cewek lain.”

“Jangan sok tahu lo, Rom! Gue sayang sama Dian, Tia, dan cewek-cewek lain. Mereka itu temen-temen gue, Rom. Lu juga temen gue dan gue…” anak perempuan it tak menyelesaikan kata-katanya. Dia menatap gelisah ke sekelilingnya yang kosong dan remang.

“Hidup ngasih lu buah lemon hanya untuk menyombong dia bisa ngasih. Dan maksa lo bikin lemonade untuk memperbudak lu.”

“Konyol banget cara berpikir lu. Hidup nggak pernah ngasih lu buah lemon, Rom!”

Raum mengernyit heran.

“Lemonnya udah tersedia terserah lu mau apa nggak. Semua ini udah disediain Tuhan buat digunain. Itu yang gue maksud dengan pragmatis. Lo punya tangan, lo punya pikiran, lo punya orang-orang di sekitar lo… Itu lemon buat lo. Terserah lu mau lu apain mereka. Melakukan hal yang baik-baik sama-sama atau menyalahkan kehidupan karena menyediakan semua ini.”

Mata Raum bergerak-gerak seolah mencari sesuatu di wajah Rasya.

“Kalo lo trauma sama kejadian abang lo gue ngerti. Tapi lo nggak bisa terus nyalahin diri lo atau berpikir…semuanya itu harus berjalan sama sesuai pengalaman masa lalu, Rom,” Rasya menggeleng. “Tiap detik dan tiap hal adalah pengalaman baru. Itu cara kita move on.”

“Gue nggak mau move on. Gue harus mengatasi ini sendiri. Lagian apa sih peduli lo sama gue? Lo mau maksa gue berteman sama lo? Baik-baikin lo?”

“Gak perlu, Rom. Lo tau kita beda agama. Orangtua gue yang Muslim taat nggak mungkin ngijinin kalo tau apa yang gue simpen dalam hati gue.”

“Apa sih maksud lo? Lo mau gue bersimpati sama lo karena orangtua lo maksa lo jadi perempuan beneran?”

“Gue sayang sama lo, Rom! Gue nggak peduli kita beda agama, atau apakah lo ngijinin gue deket sama lo…” Rasya bernafas berat. “Gue akan tetap sayang sama lo. Gue nggak mau lo sakit atau sedih…”

Sesuatu seakan menghantam dan menghancurkan isi dada Raum. Dia menatap pada tangan Rasya yang tadi memegang tangannya. Senyuman anak perempuan itu saat dia menawarkan sweater. Dan sekarang, cahaya yang berlinang di kedua mata anak perempuan itu. Kilatan emosi dari ungkapan sebuah kejujuran.

Dia memerahatikan anak itu menghela nafas.

“Gue juga minta maaf,” Rasya berkata pelan tanpa memandang anak laki-laki itu. Dia kemudian berbalik dan kembali berjalan menuruni bukit.

Raum memerhatikan kuciran rambut anak perempuan itu dari belakang. Dia menurunkan pandangan dengan rasa bersalah sekaligus kelegaan yang aneh mengisi dadanya. Anak itu menatap bahu Rasya dan memanggil menghentikannya.

“Lo mau kemana?”

Rasya berhenti dan berbalik. “Beli makanan. Gue laper.” Anak itu berbalik lagi dan kembali berjalan.

Raum menatap sepatu anak itu melangkah bergantian meninggalkannya. “Gue boleh ikut nggak?”

Anak perempuan itu melambat, kemudian menghentikan langkahnya dan separuh berbalik. Dia menjawab dengan gerakan kepala.

Raum menggaruk hidungnya untuk menutupi senyum malu. Dia berlari kecil menyusul Rasya di sebelahnya. Kedua anak mulai berjalan lagi menuruni bukit. Raum menghela nafas pelan dan menatap jalan berumput yang gelap.

Kedua anak bertatapan dan bertukar senyum malu. Rasya pura-pura menggaruk kepalanya, kemudian mendadak mendorong anak di sebelahnya dengan bahu. Raum tertawa dan balas mendorong pelan.

“Lo unyu-unyu ya kalo lagi marah,” Rasya berkata menggoda. “Kayak bayi gurita, kata si Harun.”

Raum tersenyum terhibur. “Shut up, Ras.”

Jem & Dot’s Funeral Tales: Herschel

heschel

“Apa aku mengganggu pekerjaanmu?” Jem memerhatikan Dot menghapus riasan di depan cermin.

“Tidak juga. Tapi sebenarnya aku agak lelah. Aku sudah mencari-cari celah agar bisa pulang cepat hari ini.”

“Kau tidak harus ikut, Dot.”

“Kau sudah bilang tadi. Tidak apa, kita pergi saja.”

“Kita tidak akan lama.”

Dot mengenakan riasan baru yang lebih ringan dan memungut dompetnya dari atas tempat tidur. Dia menggandeng lengan suaminya keluar kamar.

Jem berhenti di lampu merah. Dia menoleh dan memeriksa wajah istrinya. “Ada apa?”

“Hn?” Dot menyahut tanpa memandang pada Jem.

“Kau kelihatan agak…runyam.”

Dot menggeleng. “Tidak apa-apa. Pekerjaan. Biasa.”

“Aku memerhatikan, Dot. Kau terlihat seperti ini sejak minggu lalu.”

Kali ini gadis itu menoleh. “Menurutmu begitu?”

“Ya. Ada yang mau kau ceritakan?”

“Ugh, ada anak baru ini. Dia sangat membenciku. Entah kenapa. Motivasinya jelas, dia ingin posisiku. Tapi sikap yang ditunjukkannya setiap hari sangat klise dan menggangguku. Dia memandangiku dari jauh, melirikku ketika lewat, meminjam barang-barang dari mejaku tanpa ijin.”

“Bukan bermaksud men-generalisasi keadaan. Tapi setidaknya kau jadi termotivasi untuk mempertahankan pekerjaanmu.”

“Kurasa begitu.” Dot memandang suaminya. “Jem, kau sungguh membolehkanku terus bekerja?”

“Selama itu membuatmu bahagia,” Jem berkata. “Aku akan bilang jika kita benar-benar butuh melakukan penyesuaian. Kau juga bebas merancang rencana untuk dirimu sendiri. Kita bicarakan semuanya. Pendapatmu penting bagiku, Dot. Lagipula kau tahu sendiri, kadang aku berpikir dengan perutku dan melakukan keputusan konyol.”

“Oh, Jeremy Raye, kau manis sekali.”

“Ya, Dorothy Raye. Aku memang yang terbaik di sekitar sini. Oh, ngomong-ngomong boleh aku pinjam ponselmu yang satu lagi? Aku baru menjual milikku untuk membeli paket ensiklopedia Disney.”

“Apa?”

Dot duduk dan menyesap sodanya.

“Ide siapa sebenarnya acara reuni ini?”

Jem menggeleng. “Aku tidak tahu.”

“Makanannya enak. Teman-temanmu juga selalu menyenangkan.”

“Ya.”

“Aku jatuh hati ketika temanmu Boo menunjukkan tato sang kolonel KFC di lengannya. Membuatku bersyukur aku tidak punya.”

Jem tersenyum geli dan mengusap tangan istrinya. “Ya, mereka yang terburuk, aku sayang mereka.”

Band membawakan lagu Stairway To Heaven dari Led Zeppelin. MC menyebutkan lagu tersebut didedikasikan untuk seorang sahabat bernama Hersy. Suara drum-nya agak menutupi vokal penyanyinya tapi semua orang mengikuti lirik lagu sambil mengangguk-angguk.

Dot bertepuk tangan dan berseru meriah. Dia kembali duduk dan menyesap minumannya. “Hei, siapa Hersy? Aku dengar MC menyebutkan namanya. Ada dia teman yang pindah atau semacamnya?”

“Tidak, Dot. Dia sudah meninggal empat tahun lalu.”

“Oh, maaf. Kau mengenalnya, Jem?”

“Ya, kami semua mengenalnya. Anak yang baik. Aktif di organisasi. Pecinta alam.”

“Apa yang terjadi?”

“Dia meninggal di rumahnya. Sakit, tapi tidak lama. Begitulah.”

Seorang perempuan dan dua orang laki-laki berjalan mendekati meja. Laki-laki yang berdiri di belakang berkata, “Jem, kau dengar itu? Lagu itu untuk Hersy.”

“Ya, itu ide yang keren. Aku senang kita masih mengingat anak itu.”

Yang perempuan dengan rambut dikucir kuda menyahut, “Ya, sebenarnya kami punya ide lain, kami akan mengunjungi makamnya hari ini. Kau mau ikut?”

“Kalian serius?”

“Ya, sebenarnya kami akan ke rumah Bentley, karena searah kami pikir kenapa tidak.”

Jem menoleh pada Dot dan mengangkat alis. “Tentu,” istrinya berkata.

“Oke, kalau begitu.”

Batu nisan hitam itu tampak berdebu. Jejak-jejak berlumpur mengalir di sekujurnya. Tammy membasuhnya dengan sebotol air.

“Herschel Jerochim Katz,” Dot membaca dalam hati. Dan ada kata-kata lain pada nisan itu yang membuatnya menatapinya selama beberapa saat.

“Hei, bung. Kami berkumpul tahun ini,” Eddie berkata pelan. Dia menunjuk pada Jem. “Temanmu Jem sudah menikah. Kau ingat dia dan motor kebanggannya? Sekarang dia diomeli istrinya setiap hari. Bercanda, Jem.”

Jem tersenyum. “Kalian ingat saat Hersy pakai kaos pink?”

“Ya, itu hari yang aneh sekali.” Tammy berkata. “Pakaian Hersy setiap hari kalau tidak hitam, abu-abu atau hijau yang dilapisi sesuatu yang hitam. Apa yang terjadi hari itu? Apa dia kalah taruhan?”

“Bukan, kalian tidak tahu, Hersy pacaran diam-diam dengan Wen Lee dari jurusan Matematika. Mereka pakai warna yang sama hari itu,” Boo menjelaskan.

“Tidak mungkin,” Tammy berkomentar.

“Sungguh. Tapi mereka putus tidak lama setelah itu.”

“Kalian serius menggosipi seseorang di depan makamnya?” Dot berkata.

Keempat orang itu tertawa pelan.

“Seseorang selalu memanggil Hersy dengan nama Brandon. Itu juga tidak kalah aneh,” Eddie berkata.

Tammy menyahut, “Oh ya, itu Ben. Dia bilang Hersy mirip kakaknya yang tewas dalam tsunami. Sedih sekali.”

“Ya,” sahut yang lain.

Jem menyentuh rumput diatas makam itu dan mengusapnya dengan lembut. Tammy dan yang lainnya mulai mengikuti.

“Kalian yakin tidak ikut ke tempat Bentley?” Tammy berkata.

“Kurasa begitu, Tam. Aku punya rencana lain dengan istriku.”

Tammy mengangguk. “Senang melihat kalian berdua. Membuatku ingin mencoba menikah lagi.”

Jem dan Dot nyengir malu.

Tammy maju dan memeluk Jem. “Aku senang kita berkumpul, Jem. Hari ini untuk Hersy.”

“Aku tahu. Aku juga.”

Tammy memeluk Dot singkat dan bertukar senyuman dengannya. Dia mundur dan mengusap airmata di sudut matanya. Dia tersenyum lagi dan melambai kemudian bergabung bersama Eddie dan Boo di dalam Jeep.

Jem dan Dot duduk di bangku dekat pemakaman dan memandang barisan makam yang sunyi.

“Kau memerhatikan kata-kata di batu nisan Hersy?”

“Ya,” Dot menyahut. “’Aku tidak akan mati semudah itu.’ Apa itu ide Hersy?”

“Kurasa begitu.”

Dot mengangkat alis. “Itu…agak ironis, kan?”

“Sebenarnya dia mendapatkan apa yang selalu dia inginkan,” Jem berkata. Dot memandangnya. “Kau tahu, Hersy menderita alergi sejak kecil dan orangtuanya mengurungnya di dalam rumah. Dia tidak pernah keluar dan memiliki teman, dia homsechool, dia bahkan jarang bermain dengan saudara-saudaranya sendiri karena mereka tidak ingin anak yang lain tertular. Dan semua itu berlangsung sampai dia berusia 20 tahun ketika alerginya secara misterius sembuh.

Hersy ingin pergi tapi orangtuanya selalu membuat alasan untuk mencegahnya. Saat itu dia sudah tertekan karena orang-orang bersikap seolah dia tidak layak mengeluh setelah semua pengorbanan dan fasilitas yang dia dapatkan. Tapi suatu hari, setelah bertengkar hebat dengan ibunya, Hersy pergi dan memulai hidupnya sendiri, melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang jauh, mencoba tantangan-tantangan yang berbahaya. Keluarganya, selalu mengkhawatirkan hal-hal kecil, tentang alerginya, tentang dia tidak bisa menjaga diri dan sebagainya. Kemudian Hersy akan mengucapkan kata-katanya yang terkenal itu. ‘Aku tidak akan mati semudah itu.’”

“Itu karena dia marah pada keluarganya, ‘kan?”

“Pada dasarnya, ya.”

“Dia sengaja ingin membuat keluarganya khawatir?”

“Tidak juga. Meskipun ya, orangtua pasti khawatir jika mendengar anaknya mengatakan hal seperti itu. Tapi kata-katanya memang benar. Hersy bukan orang yang mudah nahas. Dia mungkin seharusnya sudah mati berkali-kali ketika mendaki gunung tanpa pengalaman atau menyelam diantara pari beracun. Tapi Tuhan selalu melindunginya. Hersy tahu itu. Tapi dia berpikir, berharap, bahwa suatu hari Tuhan akan menganggap kata-katanya itu sebagai kesombongan dan benar-benar membunuhnya.”

Dot memandang Jem tidak percaya.

“Ya, aku sendiri tidak bisa terlalu menyalahkan pemikirannya yang agak kekanak-kanakan itu.Hersy menantang Tuhan karena depresi yang berkepanjangan dan tak tertahankan yang dideritanya.

Hal baiknya dia tidak meninggal karena bunuh diri. Seminggu sebelum kematiannya Hersy pulang ke rumah untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun. Dia berbaikan dengan orangtuanya, berencana untuk kuliah lagi, bahkan menikah. Jum’at malam Hersy meninggal di pelukan ibunya setelah demam ringan. Kau percaya itu?”

Dot tersenyum. “Tuhan melepaskan bebannya setelah Hersy berhasil melewati tantangan yang sebenarnya: memaafkan keluarganya.”

“Ya.”

Dot memandang ke seberang pemakaman. “Seperti apa dia ketika masih hidup?”

“Kau ingat suatu malam di swalayan kita dilayani seorang kasir yang gelagatnya aneh? Seolah dia tersedot dalam benaknya sendiri sepanjang waktu dan melakukan pekerjaannya tidak fokus?”

“Entahlah. Mungkin.”

“Hersy agak seperti pria itu. Tapi dia selalu berusaha menyimak ketika bersama orang lain. Kadang kau merasa segan untuk mendekatinya karena dia sering tampak memikirkan sesuatu dan gelisah. Agak berbeda dengan sikapnya yang sebenarnya terbuka dan ya-oke-terserahlah, kau tahu maksudku?”

Dot mengangguk.

“Apa dia baik padamu?”

“Dia baik pada semua orang. Maksudku, dia orang yang sangat lumayan. Dalam arti tidak akan ada yang keberatan jika dia selalu seperti itu dan tidak pernah berubah. Sifatnya yang ramah-tapi-agak-tertutup membuat kepergiannya terasa seperti kehilangan yang canggung. Seperti saat kita pulang dari museum seni dan harus berpisah dengan hal-hal eksentrik dan tidak baku didalamnya. Kau merindukannya bukan dalam kesedihan yang histeris, tapi karena sepertinya kau mulai memahami simbol-simbol yang Hersy tinggalkan di dunia. Dan itu indah.”

“Aku mendapat kesan dia mewakili sisi seorang anak dalam setiap diri kita. Maksudku, dengan pengalaman masa kecilnya dan semuanya itu.”

“Kau benar. Hersy lari dari rumahnya ke dunia menyeret dunia ajaib di belakangnya, dan itu terasa berbahaya bagi orang lain yang mulai terbiasa membatasi diri untuk menjadi orang dewasa. Tapi kerumitan pikiran Hersy juga terlalu membosankan untuk disusul pikiran-pikiran praktis dan sederhana.

Hersy tidak pernah bisa menyatukan ujung-ujung dunianya. Dunia itu terus melebar dan sesekali memengaruhi teman-temannya, meninggalkan simbol-simbol yang, dalam kesunyian, menjadi indah sekaligus menyakitkan ketika dia meninggal. Kenangan tentangnya tidak terekam dalam ingatan, atau hati, tapi dalam potongan-potongan puzzle yang tanpa sadar kami gunakan untuk melengkapi diri kami sendiri.”

Dot memandang Jem dan tersenyum. “Kurasa Hersy dan Boo adalah dua temanmu yang menjadi favoritku.”

Jem melingkarkan lengannya di bahu Dot. “Yeah. Kalau Hersy ada disini, aku yakin kau akan cepat terbiasa dengannya dan entah bagaimana memercayainya menjadi babysitter anak-anak kita nanti.”

Dot menarik nafas terkejut. “Kau sudah tahu?”

“Tahu apa, Dot?”

Istrinya nyengir malu. “Aku hamil, Jem.”

Jem & Dot’s Funeral Tales: The Second Coming

Dot mengintip kebawah panci kristal itu dan memutar tombol kompor beberapa kali sebelum api biru menyala. Dia menegakkan tubuh, mendorong rambut ikal panjangnya ke belakang punggung dan menoleh.

Jem berdiri di depan kontainer, dengan tenang memotongi wortel dan sayuran segar. Dot memerhatikan laki-laki itu sambil tersenyum, kemudian mengerutkan dahi dan menelengkan kepala  ke samping. Jem menoleh padanya dan tersenyum.

Dot menusuk sepotong wortel dengan garpu dan memasukkannya kedalam mulut. Jem mengusap bibirnya dengan serbet dan minum seteguk air.

“Bagaimana?” Dot bertanya pada Jem.

“Sup kita lumayan. Dan sejauh ini kita belum berada di UGD karena keracunan.” Dot tertawa pelan. “Ini resmi ulangtahun ke-29 terbaik. Trims, Dot.”

Dot tersenyum. “Berikan piringmu. Aku akan buatkan kopi.”

Jem merangkul gadis itu saat duduk di sampingnya di sofa dan menyerahkan secangkir kopi. Dot bersandar di dada laki-laki itu dan menonton TV.

“Kau tahu, Jem? Kadang aku merasa tidak mengenalmu.”

“Apa maksudumu?”

“Entahlah, kadang kau terlihat berbeda.”

“Hm. Mungkin itu bagian dari masa laluku yang sudah kulupakan dan muncul.”

Dot menatap Jem. “Masa lalu?”

“Kurasa kau akan mengingat ini selamanya, Dot. Kau tahu, aku mengalami amnesia saat usiaku 23 tahun.”

“Astaga, kau serius?”

“Yah. Terjadi kecelakaan saat aku mengendarai sepeda motor. Dokter mencoba semuanya. Aku tinggal di rumahsakit beberapa lama dalam kebingungan. Akhirnya orangtuaku mendorong agar aku melupakan semua itu dan memulai hidup baru. Maka aku melakukannya. Seperti bayi yang baru lahir.

Meski sulit di awal, tapi perlahan keadaan membaik. Teman-temanku membantuku menceritakan berbagai hal yang kami lakukan bersama, aku tidak bisa mengingatnya, tapi aku senang karena mereka teman-teman yang baik. Aku mengulang semester, mengejar ketinggalanku, lulus dan bertemu denganmu.”

“Wow,” Dot berkata.

“Aku tahu.”

“Apa kau tidak pernah mengingat apapun dari masa lalumu?”

Jem menyesap kopi dan meletakkan mugnya diatas meja. “Kurasa tidak. Aku berhenti mencoba baru-baru ini. Aku hanya berharap itu tidak terlalu buruk. Maksudku, aku punya keluarga yang baik, bukan dari jalanan atau kelompok kriminal atau semacamnya. “ Jem mengangkat bahu. “Aku rasa hal semacam ini terjadi sesekali dalam kehidupan. Dan kupikir aku diberi kesempatan untuk menjalani hidup yang lebih baik. Itu saja.”

“Itu luarbiasa.” Dot meletakkan tangannya diatas tangan Jem dan mengusapnya. “Kau pasti menemukan kembali banyak hal menarik dari masa lalumu. Apa kau punya keahlian khusus yang kau lupa pernah punya? Maksudku, aku pernah nonton film ini tentang seorang ibu rumah tangga yang perlahan mengingat kembali jati dirinya sebagai pembunuh profesional. Keahliannya memainkan pisau membuat keluarganya takut.”

Jem berpikir. “Mungkin bukan keahlian. Tapi terkadang aku tahu tempat-tempat tertentu ketika orang mencari sesuatu. Aku juga tiba-tiba merasa mengenal seseorang, mengetahui sejarah keluarga yang sudah meninggal, atau bahkan orang asing, yang menurut orang lain seharusnya aku tidak pernah tahu. Kurasa aku mengenal dan mendengar tentang mereka secara tidak sengaja dulu dan secara acak mengingatnya lagi.

Tapi ibuku mengatakan aku tidak lagi hobi naik motor seperti dulu. Dan aku jadi lebih dekat dengan adikku Billy, padahal ibuku bilang kami selalu bertengkar sejak Billy bisa bicara. Kadang kupikir kecelakaan itu mengubah persepsiku terhadap segalanya. Seolah aku memang tidak pernah ada sebelum kecelakaan itu terjadi.”

“Aku tidak bisa membayangkannya.”

“Ya.”

“Tapi, seperti yang kau bilang, Jem. Mungkin kau diberi kesempatan kedua untuk membahagiakan orang-orang di sekitarmu.”

“Hm. Ya.” Dot memandang Jem. “Kenapa tidak?” Jem mengecup kening kekasihnya dan Dot memeluk tubuh pria itu sembari memejamkan mata.

 

“Ayo beli pizza untuk Billy,” Jem berkata di belakang kemudi.

“Kau juga harus memilihkan setelan yang bagus untuknya nanti. Anak itu urakan sekali.”

Jem tersenyum. “Aku senang kau dekat dengannya.”

“Tentu, Jem, aku suka ide-idenya. Bodoh, tapi mempesona.”

“Ya. Dia seniman yang hebat.”

Di rumah, Jem memeluk ibunya dan mencium kedua sisi wajahnya. Dot mengikuti calon ayah mertuanya ke dapur untuk mengambil minuman.

Billy  tertawa saat memasukkan potongan pizza kedalam mulutnya. Mereka mengobrol sambil makan dan minum soda jeruk. Setelah makan Dot duduk di teras, Jem tinggal di sofa menonton TV bersama Billy.

“Kampusmu enak?” Jem bertanya.

“Lumayan.”

“Sudah mulai perkuliahan?”

“Satu atau dua kelas. Dosen-dosennya masih banyak yang belum kembali.”

“Apa Ibu belum mengijinkanmu pindah ke asrama?”

“Bagaimana menurutmu? Aku tidak bisa membuat keputusan apa-apa di rumah ini.” Billy bangkit bertumpu pada sikunya. “Tapi kau bisa, Jem. Ayolah, Jem. Bujuk Ibu.”

“Bertahanlah, B. Coba cari kerja sampingan kalau kau bosan.”

“Ugh. Oke…”

Satu jam kemudian remote itu terkulai longgar di tangan Billy yang terlelap. Jem mengguncang bahu adiknya dan menyuruhnya pindah ke kamar.Dia mengamati anak itu berjalan seperti zombie dan masuk ke kamar, kemudian bangkit dan mengikutinya.

Billy berbaring di tempat tidurnya. Sementara Jem memeriksa rak buku dan dek TV yang dihuni sebuah DVD player dan Xbox. Dia mengambil majalah game yang diletakkan diatas DVD player lalu berjalan dan duduk di tempat tidur di sebelah Billy. Dia memerhatikan mata anak itu bergerak-gerak seperti sedang bermimpi dengan mata setengah terbuka.

“Jem?”

“Hei. Kukira kau sudah tidur. Apa aku mengganggumu?”

“Jem, apa kau ingat aku? Saat di barisan?”

“Apa?”

“Kita tahu aku akan turun lebih dulu. Kau memberiku saran agar memilih Ibu. Aku suka senyumannya jadi aku setuju. Lalu kau berjanji akan menyusul dalam situasi yang tidak biasa.”

Jem menurunkan majalah ke pangkuannya. “Kau bicara apa, Billy?”

Billy tampak menelan ludah, masih dengan mata setengah terpejam, sebelum bicara lagi. “Kau ingat. Barisan itu. Aula tempat orang-orang menunggu. Ruangan yang dipenuhi cahaya. Kau melindungiku dari orang jahat dan kau bilang kau menyukaiku. Kau menyebutku Adik Kecil.”

Jem terdiam. “Orang dalam jas hijau itu?” dia bergumam.

“Ya, dia orangnya.”

“Astaga…” Jem mengusap mulutnya dengan sebelah tangan. Matanya terasa berat oleh airmata.

“Jem, kau bilang kau adalah kakak laki-laki Ibu. Tapi tidak lama.”

 

Dot hampir tidak tahu apa yang harus dia lakukan ketika Jem menceritakan apa yang terjadi. Dia tak pernah melihat Jem berurai airmata seperti itu sebelumnya.

“Kau percaya padaku?” Jem berkata dengan berbisik.

“Tentu, Jem. Aku percaya padamu, meskipun jujur saja ini sulit dibayangkan.” Dot mengusap rambut diatas telinga laki-laki itu. “Jadi apa kau pikir ini tentang Kehidupan Yang Lalu? Orang bertemu di dunia spiritual dan sebagainya?”

“Aku tidak tahu. Mungkin.”

“Bagaimana Billy bisa mengenalimu? Mengapa dia bilang, bahwa kau bilang, kau akan menyusulnya?”

“Ibuku adalah anak kedua, Dot. Ibunya melahirkan seorang bayi yang meninggal tak lama setelahnya.” Jem menatap kedua mata Dot. “Dot, akulah bayi itu.”

Dot berdehem membersihkan tenggorokannya. “Jadi, entahlah, di akhirat sana, kau bertemu Billy dan bilang ‘hey, Nak, aku seharusnya jadi kakak ibumu, dan sekarang aku akan bereinkarnasi sebagai kakakmu’, begitu?”

Jem mengingat sebentar. “Orang berjas hijau itu adalah pembunuh yang baru dihukum mati. Dia mencoba mencelakai seorang anak laki-laki ini. Aku tidak bisa membiarkannya dan berusaha membuat pria itu pergi. Setelah itu Billy turun untuk lahir sebagai anak ibuku, adik Jem.” Jem mendengus sinis. “Kau dengar pembicaraanku, Dot? Bagaimana orang lain tidak akan menyebutku gila jika mendengarnya? Dan bagaimana Billy bisa mengatakan itu semua?”

Dot menyentuh tangan Jem. “Kita bisa kembali ke rumah orangtuamu besok dan tanya apakah Billy mengingat yang dia katakan padamu, oke?” Jem menatap Dot sebentar sebelum mengangguk pelan.

 

Billy menggeleng ragu. “Memangnya aku bilang apa?”

“Um…” Jem menggeleng samar. “Tidak ada. Lupakan saja.”

“Tunggu, Jem, apa yang kukatakan semalam? Aku mau tahu.”

Si kakak menghela nafas pelan. “Kau mengigau. Mengatakan kita pernah ber temu sebelumnya. Di tempat lain. Apa kau ingat?”

Billy mengangkat bahu dan menggeleng. Jem memandang kaos kuning yang dikenakan adiknya.

“Billy, Ibu selalu bilang kau benci pakaian warna hijau. Apa kau tahu sebabnya?”

“Entahlah. Aku merasa tidak nyaman saja. Aku ingat saat masih kecil kau pernah menyelamatkanku dari orang aneh berpakaian hijau. Kurasa itu sebabnya.”

“Kau ingat soal itu?”

“Ya. Tapi aku tidak yakin kapan itu terjadi. Waktunya terus berubah setiap kali aku mencoba mengingatnya. Aku bahkan hampir tidak yakin itu kau. Maksudku, kau ‘kan jahat sekali padaku. Sementara waktu itu kau menyentuh kepalaku dan bilang menyukaiku. Hm. Coba tanya Ibu, mungkin dia ingat sesuatu.”

“Ya. Aku akan bicara dengannya nanti.” Jem memandangi Billy, seolah untuk pertama kalinya. Anak itu mengangkat sebelah alisnya, merasa risih dengan sikap aneh Jem. “Aku…Dot dan aku harus pergi lagi. Ciao, B.”

Billy mengangguk. Dia menyaksikan Jem meniggalkan ruang tamu. “Hei, Jem.”

“Apa?”

Bily memutar bola matanya seolah akan mengatakan hal yang sulit. “Trims karena sudah menyelamatkanku waktu itu. Kurasa kau bukan kakak yang terlalu jahat.”

Jem tersenyum. “Trims, Adik Kecil.”

Billy termenung setelah Jem menghilang. Sebutan itu membawanya pada perasaan aneh yang terasa sangat kuno, tapi tahu kenangan itu ada dan dia berada disana.

 

“Ini dia,” Jem berkata.

Makam itu berupa undakan semen yang begitu kecil dan agak menyedihkan. Batu nisannya pecah, tapi terpancang mantap di tanah karena usia. Hanya ada sebuah nama “Jeremiah Michael Raye” dan tahun kelahiran sekaligus kematian tertulis di bawahnya.

“Ayah dan Ibu membawaku kesini setelah aku keluar dari rumahsakit. Memperkenalkanku pada keluarga-keluarga yang sudah meninggal. Yang berubah jadi kejutan bagi mereka ketika aku menceritakan siapa mereka dan bagamamana kehidupan mereka. Sesuatu yang bahkan ‘Jem yang dulu’ tidak pernah tahu. Seolah aku pernah selalu memantau perkembangan keluargaku dari suatu tempat.” Jem menghela nafas dengan cara yang sedih.

Dot menggenggam tangan Jem. “Kau tahu apa yang kuharapkan, tapi bagaimana keadaanmu sekarang?”

“Seperti baru turun dari bianglala yang sangat besar. Aku tidak yakin apakah mau naik lagi.”

Dot mengguncang pelan tangan kekasihnya. “Sudah tidak apa-apa sekarang, Jem. Mereka semua ada disini. Dekat denganmu. Ibumu, Billy. Ada sesuatu yang menyatukan kalian sebagai keluarga.”

“Tapi bagaimana dengan Jem yang dulu? Apakah orangtuaku harus tahu bahwa dia sudah tidak ada?”

“Kau muncul di tengah kehidupan seseorang setelah kecelakaan sudah cukup gila. Bagaimana kau akan mengatakannya pada ibumu? Aku tidak akan mengkhawatirkan orang itu, Jem. Aku yakin dia sedang dikumpulkan kembali bersama orang-orang yang dicintainya dengan cara yang sama dengan yang terjadi padamu dan keluargamu.”

Jem berjongkok dan menyentuh kepala nisan itu. Terasa dingin di telapak tangannya. “Aku merasa takut, Dot. Tapi juga terpenuhi.”

Dot berjongkok di sebelah Jem dan menaruh tangannya di lengan laki-laki itu. “Berita baiknya kau bisa membagi perasaan itu denganku.”

Jem memandang Dot. “Hei. Ayo menikah minggu depan.”

“Itu memang rencananya.”

“Aku tahu.” Jem mengecup jemari gadis itu. “Aku mencintaimu, Dorothy.”

Who Is Gordy?

Bayangkan tumbuh besar bersama seseorang dari masa kecilmu. Saling mengawasi diri kalian menjadi orang yang berbeda, menginjak tempat-tempat yang berbeda, melakukan hal-hal berbeda, dan selalu bisa dipertemukan lagi oleh kenangan yang sama.

Untuk sesaat Brad Bones merasa kehilangan hal itu bersama Gordy. Namun akhirnya dia sadar, dia mendapatkannya, meski bukan dengan cara yang paling masuk akal ataupun membahagiakan.

 

Bola itu melambung menyeberangi lapangan kearah wajah seorang anak diatas ayunan. Anak laki-laki itu menegakkan tubuhnya dan berhasil menangkap bola tepat waktu. Dia menatap gugup bola di tangannya dan anak lain yang berlari mendekatinya.

“Hei, kau beruntung bola itu tidak mengenai kepalamu,” anak itu berkata.

Anak laki-laki di ayunan menyerahkan bola itu padanya.

“Siapa namamu?”

Anak itu diam sebentar sebelum menjawab, “Gordy.”

“Aku Brad Bones. Kau mau main?”

Anak itu menggeleng.

“Kenapa tidak?”

Anak yang bernama Gordy duduk lagi di ayunan dan mengangkat bahu.

“Yah, terserah saja.”

Brad berlari kembali ke tengah lapangan.

 

Sore itu gelap. Brad memindahkan tas olahraganya ke belakang punggung dan berjalan menuju rumah. Dia melihat ke belokan dan menemukan seorang anak laki-laki berjalan dalam jaket bertudung coklat yang sama yang dia kenakan saat di ayunan.

“Hei,” Brad menyapa ragu.

“Hai,” anak itu menyahut.

Keduanya berhenti.

“Gordy, ‘kan?”

“Yep.”

“Kau mau kemana?”

“Kesana.” Gordy menunjuk kedepan.

“Um…kau tinggal disini?”

“Sepertinya begitu.”

“Kenapa aku tidak pernah melihatmu?”

“Aku jarang keluar, kurasa.”

Brad diam sesaat. “Oh. Oke. …Dah.”

Anak itu melanjutkan berjalan, tapi berhenti lagi setelah beberapa langkah.

“Hei, Gordy.”

“Apa?”

“Kalau kau mau, entahlah, kau boleh main Xbox di rumahku. Rumahku yang tadi kau lewati, yang warna hijau.”

Gordy diam sebentar. “Oke.” Dia mengangkat sebelah tangannya sekilas dan menyaksikan Brad kembali berjalan.

 

Brad membaca komik di tempat tidur saat Mum memanggilnya di tangga. Anak itu keluar dan bertanya ada apa.

“Ada temanmu diluar. Haruskah aku menyuruhnya masuk?”

“Siapa?”

“Dia bilang namanya Gordy.”

Brad berlari menuruni tangga. “Ya, biarkan dia masuk.” Anak itu menemui Gordy di pintu. “Hei. Kau benar-benar datang.”

“Ya, aku benar-benar datang.”

“Ayo ke kamarku.”

Gordy melepas jaket dan menaruhnya di tempat tidur. “Kamarmu bagus.”

“Kau tinggal dimana, sih?”

“Dekat sungai.”

“Benarkah? Mereka bilang disana berhantu.”

Gordy mengernyit samar. “Berapa umurmu?”

“Uh…12. Kau?”

“Aku juga.”

Brad mengangkat bahu. “Jadi?”

“Kenapa kau masih percaya hantu?”

“Entahlah. Aku berharap mereka benar-benar ada. Maksudku, pasti keren kalau aku punya teman hantu.”

Gordy menoleh pada anak itu.

“Ini komik-komikku.” Brad menunjuk pada buku-buku komik yang berserakan diatas tempat tidurnya. “Kau punya komik?”

“Tidak banyak.”

“Kau pernah main Xbox? Atau Playstation?”

Gordy menggeleng.

“Orangtuamu tidak mau membelikan, ya?”

“Kami tidak mampu membelinya. Mereka menghabiskan uang untuk kokain.”

“Oh. Maaf, kurasa.”

“Tidak apa-apa.”

“Menurutku kau anak yang baik.”

“Aku memang tidak seperti orangtuaku.”

Brad menoleh pada televisinya. “Ayo main. Akan kuajarkan beberapa cheat.”

Mereka main selama satu jam. Brad mengacak-acak rambut coklatnya karena tegang. Rambut Gordy yang gelap selalu tampak acak-acakan bahkan tanpa dia menyentuhnya. Anak itu bermain dengan tenang sambil sesekali tertawa terhibur melihat reaksi-reaksi dramatis Brad saat tokoh yang dia kendalikan kena serang.

“Dimana kau bersekolah?” Brad bertanya di sela-sela permainan.

“Aku tidak ke sekolah.”

“Oh. Maaf lagi, kurasa.”

Gordy tidak menjawab.

“Apa nama belakangmu?”

“Caesar. Gordon Caesar.”

“Apa tidak ada yang bisa kau lakukan, agar bisa sekolah gratis atau semacamnya?”

“Aku tidak tahu.”

Level permainan selesai. Brad menghela nafas. “Hei, bermainlah bersama kami di lapangan kapan-kapan.”

“Aku tidak tahu.”

“Kenapa?”

“Aku tidak terlalu suka keramaian.”

Perasaan dingin yang aneh mengisi diri Brad saat dia menatap mata abu-abu Gordy. Semacam kesedihan, bukan karena sebab biasa, tapi kesedihan panjang karena sebuah rahasia yang tidak menyenangkan untuk diketahui. Dia berpikir mungkin itu karena Gordy berasal dari keluarga kurang mampu dan jarang bersenang-senang seperti anak lain.

“Yah, kau bisa bermain Xbox bersamaku kalau kau mau.”

Gordy tersenyum. “Trims.”

 

Brad menggigit ayam gorengnya. Mum menyiapkan makanan di kursi bayi adik perempuan Brad dan kembali duduk. “Ibu tidak pernah melihat temanmu yang datang kemarin sebelumnya. Apa dia baru pindah?”

“Tidak, Mum. Dia memang jarang keluar sepertinya. Gordy tinggal dekat sungai. Keluarganya kurang beruntung. Orangtuanya pecandu atau semacamnya.”

“Astaga, kasihan sekali. Aku pikir tidak ada lagi yang tinggal di sekitar situ selain buaya.”

Dad selesai mengganti lampu tidur di kamar putranya. “Selamat malam, Anak Bau.”

Brad tersenyum. “Selamat malam, Dad.”

Dia tidak yakin berapa lama sudah tertidur setelah meletakkan komiknya di sebelah bantal. Brad membuka mata dan dalam cahaya redup lampu tidur, dia melihat sosok itu berdiri dekat pintu. Awalnya dia kira itu bayangan dari luar jendela. Sampai dia mengenali bentuk jaket bertudung warna gelap dan sosok tubuh berkepala seorang anak laki-laki.

Dia nyaris menyebut nama itu, tapi Brad menyalakan lampu meja dan saat dia menoleh, sosok itu sudah menghilang, menyisakan pemandangan dinding kayu yang kosong.

 

Pelatih meniup peluit. Anak-anak berlomba menyeberangi kolam dan kembali. Brad meraih posisi ketiga dan mencoba tidak merasa puas. Cahaya matahari menembus jendela gelanggang, menyinari bangku-bangku penonton. Di salah satu bagian yang tak terkena sinar matahari duduk seorang anak laki-laki dalam kaos abu-abu. Jaket coklatnya diletakkan di sebelahnya.

Brad mengawasi Gordy saat dia keluar dari air dan berjalan ke kamar mandi. Dia masih merasa aneh dengan apa yang terjadi semalam dan tidak berkata-kata saat berjalan melewatinya.

Gordy menatap teman barunya dengan pandangan bertanya-tanya. Brad selesai berpakaian dan menenteng tas olahraganya keluar, tapi anak itu sudah menghilang. Di luar gedung dia menemukan Gordy berdiri dekat sebuah pohon.

Brad berjalan melewatinya. Dia menoleh saat Gordy melompat ke trotoar dan mulai berjalan di sebelahnya.

“Hai,” anak itu menyapa.

Brad tergagap, “H-hai.”

“Ada apa, Brad?” Gordy bertanya.

“Huh?”

“Apa ada masalah?”

“Aku tidak tahu. Kenapa kau ada disini?” Brad bertanya ragu-ragu.

“Aku melihatmu berjalan ke tempat ini. Hanya ingin tahu apa yang kalian kerjakan. Apa kau bergabung di tim renang?”

“Tidak juga.”

Gordy diam sejenak. “Brad, ada apa sih? Apa aku melakukan sesuatu yang salah?”

Brad memandang anak itu. “Tidak, Gordy.” Dia menggeleng dan mengangkat bahu. “Maafkan aku. Aku hanya… Aku tidak tahu apa yang kulihat.”

“Apa yang kau lihat?”

Brad menghela nafas. “Aku pikir aku melihat seseorang di kamarku semalam. Tapi dia menghilang saat aku menyalakan lampu.”

Gordy tertawa lemah. “Apa kau membaca cerita hantu lagi?”

“Aku tidak berkhayal, oke.”

“Oke, oke.”

“Anehnya adalah…”

“Apa?”

“Itu terlihat seperti…”

“Apa?”

Brad melirik Gordy ragu-ragu. “Lupakan saja.”

Dia duduk di tempat tidur di kamarnya, memerhatikan Gordy duduk di lantai membaca komiknya.

“Apa kau punya saudara?” Brad bertanya.

“Um…tidak.”

“Berapa lama kalian sudah tinggal disini?”

Gordy melirik Brad sekilas. “Aku tidak tahu. Aku tidak yakin aku lahir disini. Tapi aku bermain di sungai itu sejak aku bisa mengingat.”

“Orang bilang tidak ada lagi yang tinggal di sekitar situ.”

“Memang tidak banyak. Bahkan mungkin cuma ada kami.” Gordy membalik halaman. “Kenapa bertanya?”

“Aku cuma ingin mengenalmu dan keluargamu, itu saja.”

Mereka bermain Xbox selama beberapa saat dan berhenti ketika Mum muncul di pintu.

“Sudah mulai gelap. Ibu rasa Gordy harus pulang sebelum orangtuanya cemas.”

Gordy bangkit dan mengenakan jaketnya. Brad berkata, “Tunggu, Gordy, apa kau mau makan malam bersama kami?” Dia dan Mum bertatapan sebentar.

Tapi Gordy menggeleng. “Sebaiknya tidak. Aku harus pulang. Trims.”

Brad dan Mum berdiri di tangga mengantar Gordy keluar.

“Selamat malam, Mrs. Bones. Sampai jumpa, Brad.”

“Sampai jumpa.” Brad menyahut.

“Dia kelihatannya baik,” Mum berkata sambil berjalan menuruni tangga.

“Ya, dia oke.”

“Dan juga tampan.”

“Mum.”

“Apa?”

“Itu kedengaran aneh.”

“Kenapa? Aku pikir anak itu tampan.”

Brad menggeleng dan berjalan kembali ke kamar.

“Jangan iri begitu, oke.” Mum berkata dari dapur. “Kau juga tampan, Braddy Boy. Hanya saja bau.”

“Mum, hentikan.”

Brad muntah di mobil saat berusia 5 tahun. Sejak itu semua orang menyebutnya Anak Bau.

Setelah makan malam anak itu berbaring di tempat tidurnya, membaca komik. Dia menurunkan komik dari pandangan dan menatap dinding yang kosong. Lalu menoleh ke arah televisi dan lantai tempat mereka tadi duduk. Dia terus memandangi titik itu sampai terlelap.

Terkadang orang mengalami mimpi yang sangat kuat dan terasa nyata. Brad terbangun dengan dada sesak. Dia harus bangkit duduk untuk menghirup udara.

Tekanan yang dia rasakan terasa begitu nyata. Air di sekelilingnya. Gelap. Dia tenggelam dalam mimpinya. Tapi entah bagaimana dia tahu itu bukan dirinya. Tapi seseorang yang lain.

Di akhir mimpinya Brad pikir dia mendengar seseorang berbisik menyebut namanya.

 

“Kau jago berenang, ya?” Gordy bertanya.

“Apa?”

“Kau kenapa, sih?”

“Kenapa?”

“Kau kelihatan melamun sepanjang waktu.”

Brad menatap sekelilingnya. “Sedang apa kita disini?”

“Mana kutahu. Maksudku, memangnya kau mau pergi kemana? Kita baru dari gelanggang tadi, kau ingat?”

“Benarkah?”

“Brad, kau baik-baik saja?”

“Aku tidak tahu.”

“Aku pikir sebaiknya kau pulang dan beritahu ibumu kau kurang sehat.”

Brad mengangguk.

“Maafkan aku, Brad.” Gordy berkata pelan.

“Untuk apa?”

“Aku tidak bermaksud mengganggumu.”

“Kau tidak mengangguku, kok.”

“Kau akan segera baikan. Percayalah.”

“Aku tahu. Aku tidak apa-apa.”

Mimpi itu datang lagi. Kali ini Brad berada di tepi sungai dan menjulurkan tangan ke air. Sebuah tangan lain menyambar tangannya dari kedalaman.

Brad membuka mata dan menatap bingung pada lampu yang berkedip-kedip.

“Aku tidak bermaksud mengganggumu.”

“Mum?”

Seluruh lampu padam.

“Mum!”

Derap langkah terdengar di lorong. Dad muncul dan menerobos pintu. “Hei, tidak apa-apa. Listriknya padam. Aku akan memeriksa sekringnya, oke?”

“Dad, boleh aku ikut? Kumohon.”

Dad memandang putranya. “Dasar kau ini. Ayo.”

Ruang bawah tanah terasa seratus kali lebih gelap dan udara didalamnya terasa berat. Brad mengikuti Dad yang memegang senter. Dia berdiri mengawasi kegelapan di belakangnya sementara Dad mengembalikan sekring ke tempat semula. Saat berikutnya listrik kembali menyala.

“Brad…” bisikan itu terdengar sejelas siang. Anak itu berlari meninggalkan ruang bawah tanah mendahului ayahnya.

 

“Jesse harus pergi ke rumah bibinya di Virginia.”

“Toby sedang sakit.”

“Kenneth membawa kucingnya ke dokter hewan.”

Mereka tidak jadi main sepakbola hari itu. Brad menutup telepon dan pergi ke lapangan sendirian. Dia nyaris tak terkejut ketika menemukan Gordy di ayunan. Brad duduk di ayunan di sebelahnya dan memandang kabut yang menggantung di lapangan rumput.

“Listrik di rumahku padam semalam,” dia bercerita.

“Maaf.”

“Kenapa kau mengatakan itu?”

“Uh… Entahlah. Apa ada kerusakan?”

“Tidak, Dad memperbaiki sekringnya.”

Brad mendorong dan berayun beberapa kali lalu berhenti.

“Musim panas akan segera berakhir,” Gordy berkata pelan.

Brad menoleh. “Kau masih bisa main ke rumahku di akhir pekan.”

“Dinas sosial berencana memindahkanku ke panti asuhan jika orangtuaku tidak memperbaiki diri.”

“Kau akan pergi?”

“Mungkin.”

Gordy menjulurkan tangannya, seolah ingin menyentuh wajah Brad. Anak di sebelahnya mengerutkan dahi, tapi memerhatikan tangan itu dan mimpi-mimpinya terulang lagi dalam keadaan sadar. Brad mengangkat tangannya dan menyentuh jemari Gordy yang dingin.

“Brad, sayang?” suara Mum menyadarkannya.

Brad mengerjapkan mata dan menatap makan malamnya. “Apa?”

“Kau tidak apa-apa?”

“Apa yang kita bicarakan tadi?”

“Tidak ada. Kau terus memandangi makan malammu. Kau kelihatan berbeda hari ini. Apa kita harus ke Dr. Green?”

Brad menatap sekeliling. “Dimana Gordy?”

“Kau tidak bertemu dengannya hari ini?”

“Entahlah.”

Mum dan Dad berpandangan.

 

“Brad, ini Gordy.” Mum berkata dari lantai bawah.

Mereka bermain Xbox selama hampir satu jam dan menyelesaikan sebuah level. Brad memandang pada anak di sebelahnya.

“Gordy.”

Anak itu menoleh. “Apa?”

“Jujur saja. Apa kau ini hantu?” Gordy mengernyitkan alis. “Maksudku, aku oke-oke saja kalau kau memang hantu. Kau masih boleh kesini dan main Xbox-ku.”

Gordy menghela nafas dan berkata pelan, “Hantu itu tidak ada, Brad.”

“Tapi…”

“Tapi apa?”

Mereka berpandangan selama beberapa saat sebelum Gordy melepas tawa dan terguling di lantai. Dia mengatur nafas saat kembali duduk.

“Kau benar-benar percaya aku ini hantu, Brad?”

Brad menggeleng. “Hal-hal aneh terjadi sejak aku bertemu denganmu.”

Gordy kelihatan akan meledak tertawa lagi, tapi alih-alih dia berkata, “Jadi apa yang akan kau lakukan?”

Brad mengingat mimpi-mimpinya. “Apa itu kau? Anak yang tenggelam?”

Senyuman di wajah Gordy mendadak lenyap.

“Selamat tinggal, Brad. Terimakasih untuk permainannya.”

Anak itu bangkit dan menyambar jaketnya.

“Tunggu, Gordy, aku minta maaf. Aku cuma bercanda… Gordy.”

Brad mengejar Gordy di tangga tapi anak itu sudah membuka pintu dan melesat meninggalkan rumah.

“Hei, ada apa?” Mum muncul memeriksa. “Brad, apa kalian bertengkar?”

Brad terduduk di tangga. “Aku rasa aku bicara keterlaluan.”

“Oh, sayang. Cobalah bicara lagi dengannya besok.”

 

Jalan tanah itu becek parah. Brad melewati pagar kawat yang berlubang dan menuruni semak-semak, menabrak pohon dengan hidungnya dan menendang-nendang untuk menyingkirkan lumpur dari sepatunya.

Awalnya dia pikir tidak akan menemukan apapun. Sampai dia berbelok di pohon besar dan menemukan sungai, juga rumah itu. Bangunan kayu yang memutih karena lapuk dan jamur berdiri diatas tanah lunak, tepat di tepi sungai yang berbatasan dengan hutan. Pintu kayu bergelayutan pada engselnya, menampakkan bagian dalam rumah yang gelap gulita.

Brad merasa takut tapi dia mencoba melongok kedalam. “Halo?” Tidak ada jawaban.

Rumah itu tampak kosong dan kotor. Tidak ada tanda-tanda dihuni sejak setidaknya sepuluh atau dua puluh tahun.

Brad masuk dan membuka daun-daun jendela sehingga cahaya matahari bisa masuk. Sekarang dia bisa melihat pintu-pintu kamar dan perabotan yang tersisa.

Dia masuk ke kamar pertama. Kosong dan gelap. Di kamar kedua dia menemukan sebuah tempat tidur tua dan laci pakaian. Brad mendekati laci itu dan menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya. Ada huruf-huruf yang diukir menggunakan benda tajam diatas laci itu. Dua set huruf yang bersejajar dengan kedua sis laci. Yang pertama bertuliskan “GMAC” dan yang kedua “ATC”.

Dia membuka laci-laci itu dan menemukan dua potong kaos kaki yang kehilangan masing-masing pasangannya. Sisanya hanya debu dan kotoran.

Brad keluar dan memandangi sungai. Dia sama sekali tak terkejut ketika memerhatikan kemiripan sungai itu dengan yang ada dalam mimpinya. Anak itu berjalan ke tepinya dan mencelupkan tangannya kedalam air. Dia menunggu dengan sedikit tegang tapi tangan hantu Gordy tidak kunjung menyergapnya dari kedalaman.

Brad menyeberangi halaman dan memandang untuk yang terakhir kali kearah rumah sebelum meninggalkan tempat itu. Dia kembali ke trotoar dan menghadap pulang.

Mum menanyakan keadaannya saat makan malam dan Brad menjelaskan apa yang dia temukan. Setelah itu Mum memeluknya sebentar.

Gordy Caesar tidak pernah terlihat lagi sejak itu. Setidaknya sampai dua bulan kemudian.

 

Dad memberitahu operator untuk mengisi bensin mobilnya sementara dia dan Brad masuk ke toko serbaada di sebelah pom bensin. Anak itu menelusuri rak makanan ringan saat menemukan kejutan itu.

“Gordy?”

“Brad,” sahut anak di sebelahnya.

“Kau baik-baik saja?”

Gordy memandang tubuhnya sekilas. “Yah.”

“Apa yang terjadi? Kau agak…menghilang.”

“Ya. Maksudku, aku ‘kan sudah memberitahumu. Dinas sosial membawaku.”

“Kemana?”

“Keluar kota.”

“Apa yang kau lakukan disini?”

Gordy menghela nafas. “Jangan beritahu siapapun, oke?”

Brad mengangguk.

“Aku kabur.”

“Apa?”

“Tak apa. Aku tidak benar-benar ingin kabur. Cepat atau lambat mereka pasti menemukanku. Aku hanya ingin pergi sebentar.”

“Bagaimana kau bisa melakukan itu? Maksudku, apakah itu legal?”

“Aku bukan masuk penjara, Brad.”

Brad mengangguk. Dia menunjuk ke arah belakang dan berkata, “Jadi, kau mau menumpang?”

“Mungkin aku akan disini sebentar. Aku sedang bingung.”

“Apa masalahnya?”

“Uangku hanya cukup untuk salah satu makanan ini. Aku bingung memilih Cheetos atau keripik jagung.”

Brad tertawa lemah. “Itu keputusan besar.”

“Yah.” Gordy tersenyum geli.

“Hei, aku akan belikan untukmu. Ambil saja dua-duanya. Kita kembali ke Orville bersama-sama. Bagaimana menurutmu?”

“Oke. Trims.”

Mum mengijinkan Gordy menginap malam itu. Kedua anak itu bermain selama beberapa jam di Xbox sambil mengobrol.

“Aku pergi ke rumahmu,” Brad berkata.

“Dan?”

“Tidak heran orang menyebut tempat itu berhantu.” Brad memandang rekannya setelah sadar yang baru saja diucapkannya. “Gordy, dengar, aku benar-benar minta maaf, soal waktu itu. Mungkin aku keterlaluan.”

Gordy tersenyum sekilas. “Tidak masalah, Brad.”

Brad mengernyit. “Kenapa sih kau ini aneh sekali?”

“Apa maksudmu?”

“Kadang kau bersikap seperti…kakekku.”

Gordy mengangkat bahu. “Entahlah.”

Brad tersenyum heran. Gordy balas tersenyum. Mata abu-abu itu melakukannya lagi. Kesenduan, tapi kali ini ada semacam harapan.

Gordy melirik stik di tangan Brad. “BLB. Apa artinya itu?”

Brad mengusap stiker di pegangan stiknya. “Itu inisial namaku. Bradley Lucien Bones. Apa kau punya nama lengkap?”

“Aku rasa begitu. Data dinas sosial menyebut nama lengkapku Gordon Michael Aaron Caesar.”

“Gordon…” Brad berusaha mengingat. “Gordon Michael… G…M… GMAC. GMAC, itu inisial namamu.”

“Ya.”

Mata coklat Brad bergerak-gerak liar sebelum dia bertanya, “Lalu siapa ATC?”

Gordy menundukkan kepala. Wajah itu kembali kehilangan cahayanya. “Bisakah kita bicarakan itu besok?”

“Maaf. Aku tidak…”

Gordy mengangkat wajahnya lagi. “Temui aku di rumah tepi sungai sepulang sekolah. Akan kujelaskan semuanya.”

“Baiklah.”

 

Brad memasuki rumah itu sekali lagi. Dia meletakkan ranselnya di lantai dan mencoba menangkap sesuatu dalam kegelapan. “Gordy?”

Sebuah tangan mendarat di bahu kanannya dan Brad berbalik. Gordy sudah berdiri disana dengan tatapan dingin. Dia kemudian berjalan melewati Brad menuju salah satu kamar. Brad mengikutinya memasuki kamar yang memiliki tempat tidur dan laci pakaian.

Anak itu melirik laci pakaian itu, tapi Gordy duduk di tempat tidur.

“Ini kamarku.”

“Sudah berapa lama kau tinggal disini?”

“Tak pernah terlalu lama. Aku selalu berpindah-pindah. Aku harus.”

“Tapi kau bilang dinas sosial…”

“Aku kabur.”

“Dan mereka akan mencarimu.”

“Aku kabur sebelum mereka datang.”

Brad menggeleng. “Kemana kau pergi?”

“Ke hutan. Meninggalkan kota. Kembali lagi.”

Brad menggeleng. “Kenapa kau melakukannya? Kau bisa memiliki tempat yang lebih layak, Gord.”

“Kau tidak mengerti, Brad. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi.”

“Kenapa?”

Gordy menarik nafas. “Aku berbohong padamu.”

“Soal apa?”

“Soal keluargaku. Maksudku, aku bukan anak satu-satunya.” Sekarang keduanya sama-sama menoleh pada laci pakaian di seberang ruangan. “Alex itu adikku. ATC, Alexander Tauro Caesar.”

“Apa dia juga kabur?”

“Tidak.” Gordy memandang Brad. “Dialah anak yang tenggelam yang kau lihat dalam mimpimu.”

Brad merasa rahangnya akan lepas.

“Alex berumur 8 tahun ketika itu terjadi. Dia tidak mengerti saat itu. Mungkin tidak akan pernah. Aku tidak bisa mencegahnya.” Kesedihan itu sekarang memenuhi tidak hanya mata abu-abunya, tapi juga seluruh diri Gordy.

“Apa yang tidak dia mengerti?”

Sekarang Gordy bangkit dan berdiri begitu dekat di depan Brad. “Katakan, Brad. Menurutmu berapa umurku?”

Brad menelan ludah gugup. “Duabelas? Duabelas setengah?”

Gordy tak menjawab, mengunci tatapan tajam pada anak di hadapannya. Sikap itu memberikan Brad semacam petunjuk, tapi dia tidak ingin memercayainya.

“Aku duabelas tahun,” Gordy berkata. “Setidaknya selama 50 tahun ini.”

“Astaga.” Brad beringsut mundur. “Siapa kau?”

“Aku Gordy Caesar.”

Brad menggeleng. Pikirannya dipenuhi berbagai teori konyol sekaligus mengerikan. Hantu, vampir, bahkan zombie. “Aku butuh penjelasan, Gordy.”

Gordy menurunkan pandangannya. Dia berjalan mendekati laci pakaian dan menyentuh ukiran huruf-huruf diatasnya.

“Ada ribut-ribut di tempat ini suatu hari saat aku pulang sekolah. Mereka menemukan perkuburan dan berbagai artefak kuno di hutan. Salah satunya adalah sebuah manuskrip yang mengatakan bahwa suku Tabesh telah menciptakan ramuan yang bisa membuat manusia menjadi abadi. Tapi mereka tidak pernah menemukan ramuan itu.” Gordy menoleh pada Brad.

“Tapi kau menemukannya?” Brad berbisik.

“Aku menemukan lempengan batu di kaki bukit. Ada sesuatu yang tampaknya dibenamkan didalam cetakannya. Aku memecahkannya, dan menemukan sebuah guci tanah berisi cairan. Aku tahu itu adalah ramuan yang semua orang bicarakan. Tadinya aku akan kembali dan melaporkan penemuanku. Tapi aku sangat bodoh. Aku menyimpannya sendiri. Dan aku meminumnya.”

“Lalu apa yang terjadi?”

“Tidak ada. Aku merasa lebih sehat dari kapanpun. Aku bahkan tidak perlu makan dan tetap kuat. Tapi aku tidak menduga akibatnya.” Gordy menarik lengan jaketnya dan mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya. Sebuah pisau lipat.

“Gordy, apa yang kau lakukan?”

“Tetaplah disitu, Brad.”

Brad menyaksikan penuh kengerian saat Gordy menggoreskan pisau itu ke lengannya. Gordy meringis menahan sakit. Setelah selesai dia menunjukkan luka sepanjang 10 senti itu pada Brad dan berkata, “Perhatikan.”

Seperti kelopak venus flytrap, luka itu menutup dengan sendirinya, menyisakan noda darah yang mengalir. Gordy mengusap darah dengan tangan satunya dan menarik kembali lengan jaketnya. Dia menghela nafas.

“Aku sudah tertabrak kendaraan di jalan, tertimpa benda berat. Aku bahkan mencoba melompat ke jurang untuk mengakhiri kutukan ini. Tapi tubuhku selalu beregenerasi kembali ke kondisi awalnya, apapun yang terjadi.”

Brad memandang menembus diri Gordy. “Kau terjebak selamanya dalam tubuh anak 12 tahun.”

“Tubuhku juga memancarkan gelombang elektromagnetik yang lebih kuat dari orang normal. Itulah sebabnya kau mengalami hal-hal aneh seperti mampu mengakses data ingatanku.” Gordy berjalan mendekati Brad. “Aku lari ke hutan ketika tahu orangtuaku akan direhabilitasi, dan Alex dan aku akan dipindahkan ke panti asuhan. Aku tidak bisa membiarkan siapapun tahu tentang kondisiku. Bahkan Alex, adikku.”

“Apa yang terjadi padanya? Saat kau pergi?”

“Dia mencoba menghentikanku. Itu adalah keputusan yang berat meninggalkannya sendirian. Kami sudah melewati masa-masa sulit bersama dengan orangtua kami yang pecandu. Tapi kupikir itu adalah yang terbaik untuknya. Dia akan mendapatkan perlindungan. Tapi Alex tidak ingin kami berpisah. Aku lari ke hutan, dia mengejarku menyeberangi sungai. Saat itu awal musim panas. Arus sungai terlalu deras bagi tubuhnya yang kecil. Aku mencoba menolongnya. Dia menggenggam tanganku, tapi dengan mudah terlepas oleh arus yang kuat.” Gordy memandang Brad dengan tatapan bersalah. “Dia tenggelam.”

Sebulir airmata mengalir di wajah Gordy saat dia mencengkeram jaket Brad. “Kau tidak tahu bagaimana rasanya melihat orang-orang di sekitarmu meninggal dan tidak bisa melakukan apa-apa untuk menolongnya.”

“Itu bukan salahmu, Gord.”

“Bagaimana kau tahu! Kalau aku tidak begitu bodoh dan meminum ramuan itu, semua ini tidak akan terjadi!”

Gordy melepas cengkramannya dan duduk di tempat tidur sambil mengusap airmata.

“Kemana saja kau pergi?” Brad memberanikan diri dan bertanya.

“Banyak tempat. Kembali lagi setiap beberapa waktu. Aku berusaha menghindari bahaya, sekarang.”

Brad mengangguk. “Kau tidak ingin orang menyaksikan kau celaka dan pulih begitu cepat.”

“Ya.”

“Jadi kau terus bersembunyi? Tidak pernahkah kau mencoba untuk menghilangkan efek cairan itu dari tubuhmu? Maksudku, mungkin sekarang ada semacam prosedur operasi yang bisa melakukannya.”

“Bagaimana mereka bisa melakukannya jika mereka tidak bisa melukai tubuhku dengan pisau bedah?”

Brad menghela nafas. “Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?”

“Aku sudah membahayakan diriku dengan memberitahu semua ini padamu, Brad. Sebelumnya aku tidak pernah mau terlalu dekat dengan siapapun. Aku takut mereka akan mengenaliku. Beberapa orang sempat menduga aku yang mencelakai Alex.”

Brad mengangkat sebelah tangannya. “Aku bersumpah tidak akan memberitahu siapapun.”

Gordy bangkit berdiri. “Aku harus pergi, Brad.”

“Sekarang?”

Brad mundur saat Gordy mengulurkan tangan untuk bersalaman. “Terimakasih untuk semuanya. Kau teman terbaik yang pernah kumiliki.”

“Tidak. Kumohon, Gord. Jangan pergi. Kau tidak bisa sendirian diluar sana. Kau… Kau…”

“Aku akan baik-baik saja, Brad.”

“Tidak. Pasti ada seseorang yang bisa menolongmu dan…dan kau akan kembali seperti semula…”

Gordy melesat dan pergi meninggalkan rumah. Brad mengejarnya di pekarangan, tapi anak itu sudah menyeberangi sungai dan masuk ke hutan.

“Gordy!” Brad berlari dan melompat kedalam air setinggi lutut. Dia berusaha menyeimbangkan diri diantara bebatuan, tapi sepatunya yang berlapis lumpur membuat permukaan menjadi lebih licin. Batu-batu dibawah kakinya longsor dan kini Brad sudah tenggelam setinggi pinggang.

Sebelum dia sadar Brad sudah terjungkal ke samping dan merasakan tekanan air di sekelilingnya. Setiap kali dia berusaha berpijak arus air mendorong kakinya ke belakang dan membalik tubuhnya.

Brad merasakan tubuhnya bergerak terbawa arus tapi tidak bisa melihat apapun. Sesekali lengannya menabrak batu besar dan kakinya seolah menginjak treadmill yang sedang bergerak. Brad membuka mata dan sadar dia tidak akan bisa segera bernafas. Tangannya menggapai-gapai keatas. Jemarinya muncul sesekali ke permukaan, tapi tidak ada yang bisa dijadikan pegangan. Sampai akhirnya dia menyentuh sesuatu yang masuk kedalam air. Sebuah tangan.

Saat wajahnya muncul ke permukaan, udara luar segera mendorongnya menarik nafas. Dia tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang menariknya keluar. Brad ingat tubuhnya diseret ke tepi sungai yang berlumpur. Dia ingat namanya dipanggil beberapa kali. Dia mengenali suara itu. Dia ingin menyebut namanya tapi tiba-tiba seluruh tubuhnya terasa sangat ringan dan Brad kehilangan kesadaran.

 

Ada banyak cahaya. Bentuk-bentuk dan warna mulai terlihat jelas. Mum berdiri menghadap jendela, sedang berbicara dengan nada khawatir di ponselnya.

“Mum?” Brad bergumam.

Mum berbalik dan mengakhiri pembicaraan telepon. Dia mulai menangis diatas Brad dan mengatakan betapa cemasnya dirinya.

“Apa yang terjadi?” Brad mengangkat tangannya dan melihat jarum infus. Dia segera tahu dia sedang berada di kamar rumah sakit.

“Kau mencoba menyeberangi sungai dan terbawa arus, sayang. Gordy memberitahu apa yang terjadi dan aku langsung memanggil ambulans.”

“Gordy… Dimana Gordy?”

“Maafkan aku, sayang. Mum rasa dia sudah kembali ke panti.” Mum membelai rambut Brad dengan lembut. “Gordy sangat berani. Dia yang menarikmu keluar dari air. Apa sih yang kau lakukan disana? Itu tempat yang berbahaya.”

“Maafkan aku.”

“Oh, Anak Bau…” Mum menciumi wajah Brad.

Brad memandang menembus dinding kamar, menduga-duga sejauh apa Gordy Caesar sudah pergi dari kehidupannya.

 

14 tahun kemudian.

“Enambelas tahun dan akan pergi kuliah. Aku selalu tahu kau spesial, Crista.”

Gadis itu memainkan alisnya. Brad tertawa dan melempar sepotong Cheetos kearah adiknya.

“Ada banyak sekali Cheetos. Apa ini idemu?”

Crista mengangguk. “Mum mencoba membuat raddish rosette untuk hari terakhirku sebelum pindah ke asrama, tapi gagal dan berakhir membuat brownies. Aku harus memilih antara Cheetos atau keripik jagung, tapi Dad membelikanku keduanya.”

Kata-kata itu menderingkan sesuatu dalam ingatan Brad.

“Uangku hanya cukup untuk salah satu makanan ini. Aku bingung memilih Cheetos atau keripik jagung.”

“Itu keputusan besar.”

“Yah.”

Dia mulai menelusuri ingatan itu dan berjalan ke tangga, naik ke kamarnya.

Tidak banyak yang berubah kecuali satu atau dua hal.

“Aku berusaha menjaganya tetap seperti saat kau meninggalkannya,” Mum muncul di pintu. “Gaya kandang hewan.”

Brad tersenyum dan merangkul ibunya.

“Mum, apa kau ingat?”

“Apa?”

Brad menunjuk ke depan televisi. “Aku dulu bermain dengan seseorang yang menyelamatkan nyawaku saat umurku 12 tahun.”

“Oh, ya, anak itu. Greyson? Gordy? Ya, Gordy. Apa kau pernah bertemu dengannya lagi?”

Brad menggeleng. “Tidak.”

“Mum ingat dia anak yang baik.”

“Dia lebih dari itu.”

“Kau tahu? Jalan ke sungai itu sekarang sudah ditutup sejak apa yang menimpamu.”

“Bagaimana dengan rumahnya?”

Mum menggeleng. “Mum tidak pernah tahu.”

Brad menatap tempat tidur lamanya. Kenangan tentang Gordy terasa lebih sederhana dari yang dia duga. Disamping semua hal yang anak itu ucapkan hari itu, yang masih Brad ingat dengan jelas. Dia bahkan mulai menduga bahwa anak itu cukup aneh untuk berbohong. Tentu mengecewakan seandainya Gordy memang mengarang cerita itu dan melakukan trik untuk membuat Brad percaya dia melukai lengannya dan pulih dalam hitungan detik. Meski menghilangnya dirinya setelah itu tetap sebuah misteri.

Malam itu Brad berada di cafe untuk menemui kliennya. Dia tenggelam bersama laptopnya saat Brad melakukan pencarian jaringan untuk nama “Gordon Michael Aaron Caesar.” Muncul beberapa profil, tapi tampaknya tidak mengarahkan pada petunjuk apapun tentang Gordy yang dikenalnya.

Mr. Ranch muncul dan duduk bersama Brad. Mereka berbincang sebentar sambil minum.

“Akan aku tunjukkan presentasi yang akan kita lakukan,” Brad menggeser laptopnya. “Oh, maaf. Tadi aku sedang browsing…” Dia sedang mencari tombol tutup pada jendela broswer ketika menangkap sebuah nama dalam hasil pencarian. “Alexander Caesar… tenggelam… menghilang…”

Brad menekan tombol klik. Tautan itu menampilkan sebuah artikel tentang misteri hilangnya seorang anak laki-laki bernama Gordy Caesar. Awal musim panas itu Dinas Sosial hendak menjemput kedua putra pasangan Martin dan Louisa-May Caesar ke panti. Tapi mereka tidak pernah melakukannya. Sang adik ditemukan tenggelam di sungai dekat kediaman mereka. Sementara sang kakak hilang dan tak pernah ditemukan.

Artikel itu juga mengatakan peristiwa itu terjadi 60 tahun yang lalu.

Brad menggeser halaman hingga ke ujung artikel, yang menunjukkan foto kedua anak laki-laki yang tewas dan yang menghilang. Nafas Brad sesak ketika wajah itu memenuhi ingatannya lagi.

Bobot tubuh itu terasa mengisi lagi ruang di sebelahnya seperti saat di depan televisi. Suara itu memenuhi kepalanya lagi memanggil namanya. Jemari itu kembali dia sentuh diatas ayunan di lapangan yang berkabut.

“Musim panas akan segera berakhir. …Aku tidak bisa membiarkan siapapun tahu tentang kondisiku…”

Saat dia sadar airmata sudah mengaliri wajah Brad.

“Ya, Tuhan…” Brad menggeleng. “Maafkan aku, Mr. Ranch.”

“Astaga, ada apa, Bones?” Mr. Ranch mengikuti arah pandangan Brad dan melihat ke layar. “Apa itu keluargamu? Hei, aku sangat menyesal, Brad. Bagaimana kalau kita sudahi saja hari ini. Sepertinya kau butuh udara segar.”

Mr. Ranch mengusap-usap punggung Brad.

 

Bintang-bintang nyaris tak terlihat diantara cahaya lampu gedung-gedung. Bintang utara mulai terlihat cemerlang ketika Brad berjalan di sisi lain rel untuk memotong jalur.

Lingkungan ini nyaris kumuh. Brad ingat saat keluarganya mengalami krisis ekonomi dan Dad membawa mereka kesini untuk membeli karpet murah.

Brad menenggak habis Red Bull dan membuang kalengnya ke tempat sampah. Angin malam bertiup membekukan kulit. Seorang anak yang berjalan beberapa meter di depan Brad menarik tudung jaketnya menutupi kepala. Brad memerhatikannya sejenak. Celana dan sepatunya berbeda, tapi jaket coklat itu…

Pikirannya pasti penuh harapan saat Brad menyebut nama itu lagi setelah 14 tahun. “Gordy… Gordy!”

Anak laki-laki itu menoleh ragu-ragu. Bahkan di tengah cahaya remang, Brad bisa menangkap mata abu-abu dibalik rambut coklat gelap yang berantakan. “Ya, Tuhan… Gordy!”

Anak itu secara mendadak berlari. Brad menyumpah dan berlari mengejarnya. Dia menyeberangi perempatan dan menabrak tempat sampah hingga terjungkal ke depan. Brad bangkit lagi dan kembali berlari. Tapi di belokan berikutnya anak itu sudah menghilang.

Brad berpikir sambil mengatur nafas. Dia tidak bisa kembali besok untuk mencarinya lagi disini. Saat itu Gordy pasti sudah pergi ke tempat lain.

Sambil berjalan gontai Brad menyusuri trotoar. Dia berhenti dan berjongkok di depan sebuah gang untuk mengumpulkan nafas.

Dari kegelapan terdengar suara gemerisik. Brad menoleh. Itu sebuah gang buntu. Tembok gelap itu dipenuhi grafiti dan tumpukan sampah. Satu-satunya bentuk yang memberi Brad harapan adalah lengan jaket dan ujung sepatu anak itu dibalik sebuah tempat sampah besar.

Brad bangkit berdiri, mencoba tidak menimbulkan kebisingan saat dia berjalan mendekati tempat sampah. Dia berhenti untuk memberi jarak agar tidak membuat anak itu takut.

“Aku tidak akan menyakitimu.” Anak itu tersentak kaget di tempat persembunyiannya. “Tolong keluarlah dan temui aku.”

Anak laki-laki itu bangkit perlahan dan mengintip. Dia sendiri masih mengatur nafasnya setelah berlari.

Kini dia berdiri di hadapan Brad dan memerhatikannya dengan seksama. “Siapa kau?”

Brad memandangi anak itu penuh takjub sekaligus kerinduan. Wajah yang sama, rambut yang sama, tinggi yang sama dari yang terakhir kali diingatnya. “Astaga, Gord, ini aku. Brad. Kau ingat?”

“Aku tidak mengenalmu.”

“Rumah hijau. Xbox. Demi Tuhan, Gord, kau tahu siapa aku!”

Anak itu diam sebentar. “Aku tahu. Tapi kau juga tahu peraturanku. Aku tidak bisa…”

“Kau tidak bisa bersembunyi selamanya, Gordy. Tidak dari sahabatmu.”

Cahaya redup menyirami rambut coklat keemasan laki-laki itu. Wajahnya nyaris berubah total, tapi Gordy tahu dia masih orang yang sama.

“Kau sudah menemukanku. Lalu apa?”

Brad memandangi anak itu dan mencoba memuaskan rasa rindunya. Dia mengangkat bahu dan tersenyum sedih. “Kita bisa mulai lagi dari awal.” Dia memberikan tangannya. “Siapa namamu?”

Anak laki-laki 12 tahun itu menjabat tangannya. “Gordy.”

“Aku Brad Bones.” Brad mengusap sudut matanya. “Entahlah. Kau mau pizza?”

Untuk pertama kalinya setelah 14 tahun, Brad melihat senyuman anak itu lagi. Mata abu-abunya dipenuhi kesedihan, harapan, dan kali ini ada sejenis keriangan.

Kedua sahabat itu duduk bersama lagi, di restoran 24 jam yang memancarkan cahaya dingin di jalanan kumuh sisi lain rel. Mengobrol, tertawa, bertukar makanan. Gordy akan selalu punya pesona anak-anak-nya, di saat bersamaan Brad bisa menangkap cara bicaranya yang diluar waktu.

Aku sering berpikir aku bisa melihat kilasan mata abu-abu itu di jalanan, di luar jendela, bahkan di kamarku. Tapi aku tak pernah bertemu lagi dengan Gordy Caesar. Usiaku 68 tahun. Sekarang aku mengerti kehidupan seperti apa yang dijalani seorang anak yang akan selamanya berusia 12 tahun, terus berlari sambil menyaksikan orang-orang di sekitarnya menua, dan akhirnya meninggalkannya. Dan itu akan terus terjadi. Mungkin sampai akhir dunia. Aku tidak tahu. Kau tidak tahu. Hanya Gordy yang akan mengetahuinya.

Setidaknya, jika memang ada surga, aku tahu satu orang yang ingin kutemui di keabadian.

who is gordy2

Gurun Hamim

Apa yang terjadi jika keledai menolak memanggul beban, lalu melenggang menuju habitat alaminya?

Pemiliknya sedih dan bingung. Ia tidak tahu mengapa dan kemana keledai itu pergi, karena si pemilik, dan sebagian besar orang, tidak tahu dimana habitat alami keledai.

Tidak ada kejahatan yang disengaja dalam kisah ini, kecuali oleh si keledai sendiri. Tapi sebenarnya ceritanya cukup indah, tentang toleransi dan keikhlasan, dengan sedikit airmata dan luka…

I

Pria itu, bernama Thema, dan beberapa sahabatnya kenal baik dengan keledai yang mereka beri nama Hamim. Maka ketika Hamim menghilang, mereka semua bertanya-tanya apa yang menyebabkan perilaku spontan hewan tersebut.

Di dunia ini ada anak kecil yang menghafal Al Qur’an, ada ayam yang tetap hidup meski kepalanya terpotong, dan ada keledai yang sedikit lebih sensitif untuk menyadari takdirnya. Hamim berusaha sangat keras menahan apa yang diketahuinya, dan menghadapi sikap manusiawi tuannya yang tak menyadari kepekaan keledai setianya.

Ketika beristirahat dan beban-beban diturunkan, Thema melepas Hamim di padang bersama teman-teman keledainya. Tapi Hamim tidak benar-benar menikmati rumput atau berada bersama keledai-keledai biasa. Dia berlari menuruni bukit dan membenturkan kepalanya di pohon sehingga ia meringkik pilu. Ia berguling dan menabrakkan tubuhnya pada batu.

Ia merasa sakit, ringkikannya terputus-putus, rekan-rekan keledainya meringkik bingung atau mengejek gila, tapi Hamim tidak mati dan itu membuatnya semakin putus asa. Ia meneriaki keledai-keledai itu dengan sebutan bodoh dan ignoran. Bahkan terkadang ia menatap membenci teman-teman manusianya.

Tapi ketika beban diletakkan diatas punggungnya, Thema menarik tali kekangnya, mekanisme tubuh dan pikiran Hamim kembali menjalankan tugasnya sebagai keledai dungu yang mengikut diseret kemanapun.

II

Sampai di satu titik dimana ia mencoba lebih ramah kepada teman-teman keledainya, mencoba lebih mencintai dan terlihat antusias di depan tuannya, tanpa sadar itu menguras tenaga dan emosinya.

Lalu ia berlari menuruni bukit dan kali ini kepalanya mengeluarkan darah. Dia membenturkan diri di batu dan kulitnya robek. Tapi ketika Thema memanggil-manggil, Hamim buru-buru pergi ke sungai dan membersihkan noda-noda darah dari tubuhnya dan datang sambil sebisanya membuat senyuman untuk tuannya, agar entah bagaimana Thema akan melihat kejanggalan pada diri keledainya.

Luka-luka itu membuat Hamim merasakan kelegaan yang aneh. Tapi dampaknya kurang ia sukai ketika tuannya tiba-tiba menjadi banyak berbicara dan bercerita ini itu pada Hamim, menganggap keledai itu mengerti, tentang pekerjaannya, keluarganya… Tapi Hamim berusaha menikmatinya karena ia pikir cukup adil karena kini ia tahu cara membuat dirinya lebih merasa bebas.

III

Tapi setelah luka-luka itu sembuh, kondisinya justru semakin buruk dan lebih buruk dari yang pernah ia rasakan. Dan kini pikirannya terlalu penuh untuk berpura-pura menurut.

Ia memasuki level kegilaan pada hewan yang membuatnya semakin terputus dengan kehidupan nyata. Ia bahkan lupa nilai-nilai yang dulu ia manjakan berkenaan dengan perasaannya. Sekarang ia merasa tidak berada dimana-mana. Dan sekarang rasanya seharusnya tidak ada yang mengaturnya kemana ia harus pergi, bahkan dirinya sendiri.

Jadi dia berhenti, mengejutkan Thema diatas keledai lain yang ditungganginya, dengan gerakan dan ringkikan gelisah yang tak biasa. Thema turun dan melepas ikatan dan beban-beban itu dari tubuhnya.

Lalu ia memerhatikan keledai itu menatapnya balik, seolah berkata, “Aku harus mengerjakan urusanku sendiri sekarang.”

Kemudian perut keledai itu berbelok ke arah sebaliknya dan mulai berjalan pergi. Sikap dinginnya seolah ia tahu ia sedang meninggalkan tuan yang telah memberinya makan dan kesempatan hidup di lingkungan manusia.

IV

Thema, setengah tidak percaya, duduk di tempatnya bersama barang-barang dagangan dan kotak-kotak pakaian, kitab, buah kering… Di jalur keledai yang hening, hari mulai gelap dan Thema sadar keledainya tak akan kembali.

Ia berlari kearah keledai itu tadi pergi. Tapi ia berhenti sebelum mencapai pohon, di bawah pohon itu terdapat sebagian tanah lembek dengan jejak-jejak keledai. Thema mengerutkan dahi memikirkan mengapa seekor keledai mau melakukan itu.

Ia pulang dengan keledainya. Pria itu meninggalkan barang-barangnya begitu saja, berharap ada yang tersisa saat esok ia mengambilnya.

Thema menceritakan kepergian Hamim kepada teman-temannya, yang menjadi sama herannya.

Mereka mendiskusikan apa yang kira-kira membuat seekor keledai bertingkah sedemikian rupa, dan dimana mereka bisa mencarinya, karena entah bagaimana mereka merasa kehilangan sosok Hamim. Keledai itu sudah seperti salah satu sahabat mereka sendiri.

V

Dua kali Thema mencoba menelusuri jalan kemana Hamim pergi. Ia berakhir di desa lain dan pasar seperti yang sudah dipahaminya, karena ia dan Hamim lewat sana hampir setiap hari. Thema kebingungan karena seolah Hamim menghilang begitu saja ditelan udara.

Ia mendongak, melihat kerlipan cahaya diantara pepohonan. Kemudian ia bergeser sambil masih mendongak hingga menciptakan sensasi mirip mabuk. Dilihatnya awan besar-besar menggumpal diatas kepalanya, lalu pengamatannya bergeser ke langit yang lebih jauh ke Selatan dimana langitnya lebih bersih tanpa awan.

Thema kembali pulang dan bertanya pada teman-temannya, “Dimana menurutumu habitat asli keledai, wahai Salim?”

Salim menjawab tidak tahu.

“Tahukah kau jawaban pertanyaanku, Baraq?”

Baraq menggeleng.

“Bagaimana denganmu, Balshar?”

Balshar menjawab dia tidak tahu, tapi menyarankan Thema bertanya pada Kiriotip yang tua. Di adalah mantan penasehat dan guru pangeran.

Maka pergilah Thema menemui pria tua yang nyaris tak bisa melihat lagi itu.

Kiritotip pun tak bisa membedakan kurma yang baik dan yang sudah terlalu kering. Namun Thema bukan datang untuk hidangan. Ia menyampaikan keperluannya.

Maka ia pun mendapatkan jawaban yang diinginkannya, “Sesungguhnya keledai itu tinggalnya di gurun yang kering, mereka makan dari apapun yang tumbuh di tanah kering.”

Thema mengucapkan terimakasih dan memberikan Kiriotip sepasang sandal dan sekantung kurma yang masih bagus dan manis.

VI

Thema mempertimbangkan apakah dia cukup gila untuk pergi ke gurun yang luas untuk mencari seekor keledai. Namun ia mulai mengarungi seperempat mil ketika sadar ia sudah berada diatas untanya. Thema masih bisa melihat gugusan awan menggumpal agak jauh di belakangnya. Tapi kemudian ia melupakan sisa perjalanannya.

Laki-laki itu sadar ketika suatu hari ia kehabisan air. Ia menuruni bukit pasir dengan gelisah. Agaknya ia mulai benar-benar gila, dan memanggil-manggil nama Hamim.

Thema berbalik menatap untanya. Seolah membagi kerisauannya, menanyakan dimana Hamim berada menurut untanya itu.

Ia tersadar ketika untanya mengeluarkan suara, seolah memberitahu ada yang datang. Thema berbalik lagi dan memandang ke kejauhan, kepada bayang-bayang fatamorgana yang menari-nari seperti genangan minyak.

Lalu sosok itu terlihat, hitam, kecil, berbentuk seekor keledai, pendek seperti biasanya. Thema menunggu dengan tidak sabar. Ia terduduk di pasir menahan rasa panas dan haus.

Tanpa sadar ia tertidur, atau yang sebenarnya, tidak sadarkan diri.

VII

Perutnya terasa berputar ketika ia bangun. Thema membuka mata dan menyaksikan perut keledai dibalik sepatunya. Ia bangkit duduk dan melihat dengan jelas seluruh bentuk hewan dibawah bukit.

Hamim si keledai menyapanya dengan tatapan enggan.

Tak menghiraukan rasa haus dan perutnya yang keroncongan, Thema bangkit dan memeluk leher keledai itu layaknya memeluk kuda istana yang gagah. “Mengapa kau menghilang, Hamim?” ujarnya serak. “Kami semua merindukanmu.”

Hamim menarik tubuhnya seolah merasa enggan. Ia telah menjalani hidup yang tenang menjadi dirinya sendiri, menghadapi kefrustasiannya sendiri ketika setiap hari memikirkan kesalahan-kesalahan yang tidak disadari keledai dan manusia lain, tapi sekaligus menjadi lebih tertutup dan sulit memaafkan.

Keledai itu mendengking keras seolah menyatakan protes, “Aku tidak punya waktu untuk basa-basi lagi. Biarkan aku sendiri.”

Thema terlalu senang untuk memerhatikan sikapnya itu. Ia mengikuti ketika Hamim berjalan pergi. Mereka sampai ke padang gurun yang lebih rata dan memiliki jumput-jumput hijau kelabu dan semak-semak kering menghitam. Disana Thema menyaksikan Hamim makan dengan tenang. Lalu keledai itu menatapnya seolah kembali menekankan, “Aku bisa mengurus diriku sendiri. Pergilah.”

Kali ini Thema berusaha menangkap tatapan dalam bekas keledainya itu. Ia menatap ke langit, tepat ke matahari yang menyingsing seperti bola api, seolah sengaja dibuat untuk memanggang semua orang. Tapi ia juga menjadikan tanaman tumbuh dan menjadi makanan bagi keledai seperti Hamim.

“Kurasa aku tahu sekarang darimana asal luka-luka di tubuhmu,” kata Thema. “Kau tidak bahagia.” Ia melihat sekeliling. “Dan aku tidak tahu apakah kau bahagia disini. Tapi kurasa… Kurasa, Hamim, kau tahu bagaimana kau ingin menghadapi hidupmu yang tak kupahami.”

Seolah setuju, Hamim menoleh dan menundukkan pandangannya.

Thema tersenyum simpul. “Hamim… Aku tahu… Aku tidak boleh…”

Tubuh Thema ambruk sebelum menyelesaikan kata-katanya.

VIII

Ia bangun ketika merasakan udara dingin yang menusuk. Bintang-bintang menjadi pemandangan indah sekaligus menggelisahkan ketika ia membuka mata pertama kali.

Thema bangkit duduk dan melihat sekeliling dimana segalanya masih sama seperti terakhir kali ia melihatnya. Kecuali Hamim yang sudah menghilang.

Ia menoleh ke belakang. Betapa kagetnya ia melihat botol airnya disandarkan di sisi sebatang pohon mati. Thema bergegas menjenguk benda itu dan memeriksa isinya, hampir penuh. Laki-laki itu mereguk setengah isinya.

Setelah puas baru ia ingat untuk melihat sekeliling, bertanya-tanya siapa yang memberikannya.

Ia terus memikirkan kemungkinan ajaib itu, bahwa Hamim yang membawakannya air, selama Thema berjalan mengejar untanya yang melenggang ke arah utara, 50 meter di depannya. Ia mereguk lagi sejumlah air dan menyimpannya ketika sudah mencapai leher untanya.

Langit begitu gelap dan luas. Indah dan sunyi. Thema menunggangi untanya, mengarahkannya pulang.

Tatapannya terus mengarah ke barat, seolah bisa membayangkan Hamim diantara cakrawala. Dia bersedih, tapi cukup bersyukur bahwa ia bisa merelakannya sekarang. Mulai saat itu, ketika sesekali ia melewati jalur yang sama, lalu ketika ia membawa anak-anaknya beberapa tahun kemudian, Thema menyebut gurun tersebut dengan nama Gurun Hamim.

Dan ketika anak-anaknya bertanya mengapa dinamakan demikian, ayahnya akan menjawab, “Karena disinilah sahabat ayah hidup terpisah dariku, tapi sesungguhnya ia pun tetap bersama kami ketika sahabat-sahabat berkumpul dan mengenang jalur-jalur pendek yang kami lalui, dan menyadari, bahwa hidup pun demikian. Hanya saja terkadang, kau tidak tahu jalur yang mana yang paling baik untuk dilalui sahabatmu yang lain, dan ia memisahkan dari rombongan.”

“Apa kalian pernah bertemu kembali?” tanya putra bungsunya.

Serangan kesedihan menerpa hati Thema. Tapi langsung redam ketika ia membayangkan siluet keledai di kejauhan, dan menjawab, “Ya. Selalu.”

Silvia, Aku…

Silvia, kopi yang kuminum membuatku terjebak dalam rushing thought dan anxietas. Sepanjang sore aku mendengar orang mengolok-olokku, menyindirku. Setiap dengungan kata yang mereka ucapkan seakan berasal dari seluruh opini, keyakinan dan penilaian serta prinsip hidup mereka tentang keburukanku. Dan mereka menunggu saat aku di dekat mereka untuk mengatakannya.

Aku ingat untuk tidak menurutinya, tapi kau tahu bagaimana kecemasan dan delusi bisa tumbuh menjadi daging yang memancang di dalam tubuh. Apa yang samar menjadi vonis, yang benar memiliki alternatif lain.

Kau tahu, kurasa aku melihat puncak kepalamu dari jendela hari ini. Aku dengar salah satu sustermu mengatakan sesuatu, mungkin bukan bicara padamu, dengan suara nyaring lalu tertawa. Kuharap kau senang dengan keberadaan orang-orang baik disana.

Aku harap aku tidak kelewatan. Catatan-catatanmu belum habis kubaca. Aku terus mengirimimu surat. Aku menganggap tulisan-tulisanmu, meskipun tidak berbicara langsung terhadapku, sebagai balasan dari segenap hatimu. Dan aku sangat menghargai seluruh catatan-catatanmu sejauh ini. Mungkin suatu saat aku akan mengirimkannya ke penerbit agar dibuat buku. Itu pun jika kau mengijinkan.

***

Silvia, pikiranku begitu penuh dan mengoceh sepanjang hari. Segelas air putih meredakan efek dua cangkir kopi yang kuminum. Aku membantu sedikit pekerjaan ayahku. Aku berkeringat dan merasa lebih baik. Seandainya aku kelelahan dan langsung jatuh tertidur. Tapi aku menulis surat untukmu lagi.

Aku membayangkan kamarmu sekering dan semembosankan perpustakaan sekolahku. Tapi aku suka duduk disana dan membaca majalah sastra terbitan lama. Kau bisa membuat puisi? Aku tidak pandai menulis puisi yang baik, tapi temanku Rani bisa membuat kata-kata yang berbunga. Suatu hari dia melawak mengatakan “…adamu bagaikan bunga melati yang mekar, Eri… Kadang tak dapat dipercaya kau tercipta di dunia, tapi kadang kau tidak cukup menonjol diantara bunga lainnya.” Dia mendeklamasikannya sambil memicing-micingkan mata seperti orang cabul di depan wajahku.

Silvia, pagi ini saat mengendarai motor ke sekolah, aku merasa akan mendapatkan serangan panik. Aku berhenti sebentar di pinggir trotoar. Aku merasa baik-baik saja, tapi aku tahu aku tidak rileks. Jantungku seperti ketakutan oleh kecepatan laju motorku sendiri. Aku mulai berkendara lebih pelan, lalu tiba di sekolah dengan rasa kecemasan yang biasa.

Sebelum guru masuk, aku lari ke kantin dan membeli permen coklat, berharap itu bisa membuatku rileks.

Aku ingin tahu bagaimana kau biasanya mengatasi rasa cemas?

***

Silvia, hari ini ada yang aneh dengan Rani. Mula-mula aku menangkapnya menatapku dari seberang ruangan kelas. Saat jam istirahat aku membeli mi goreng diatas daun pisang, lalu makan di kursiku ditemani sebotol air mineral.

Awalnya aku melihatnya membenahi jilbabnya. Lalu aku makan, beberapa saat kemudian aku mendongak dan Rani sudah menatapku, hapenya ada di tangan, menghadap wajahnya tapi diacuhkan.

Ia membuang pandangan, aku tahu dia berusaha tidak terkejut. Rani memandangku lagi, agar mengesankan bahwa dia  memandang tapi memikirkan hal lain. Lalu pandangannya kembali ke hape di depannya.

Sudut matanya membesar tanda ia sadar aku memerhatikannya. Aku menghabiskan makananku dan minum menghadap papan tulis…

Akhirnya, saat pulang sekolah, aku tahu apa yang ada di pikirannya. “Siapa Silvia?” katanya, dengan nada yang agak menantangku.

Dia menemukan salah satu suratku dan beberapa lembar catatan darimu di laci mejaku. Mau tak mau aku menjelaskan tentang siapa dirimu, dan bagaimana kita berkomunikasi melalui lubang pada jaringan kawat diatas kamarmu di Yayasan Jiwa Ferdinand Simanjuntak sebelah sekolah.

Dia terkejut ketika kubilang aku bahkan belum pernah melihat wajahmu secara langsung. Rani bertanya mengapa aku menulis surat-surat ini padamu. Aku menjelaskan tentang kondisi mentalku, dan seperti yang kuduga dia bertanya lebih banyak.

Silvia, awalnya aku merasa terganggu dengan perhatian baru darinya. Tapi hatiku kembali penuh ketika ia menatapku dan tersenyum. Lalu dia bilang aku bisa curhat padanya kalau aku mau. Entah kenapa aku merasa aku tidak akan pernah melakukan itu. Tapi aku tersenyum juga, lalu aku merasa malu. Kenapa aku merasa malu ya? Aku juga tidak tahu.

Mungkin Rani lebih baik dari yang kupikirkan.

***

Silvia, aku naik kelas. Bulan depan aku kelas duabelas. Aku bertekad akan membicarakannya dengan orangtuaku. Karena aku tidak ingin masalahku terlambat ditangani. Aku lelah menyerap semuanya sendiri, dengan diriku sendiri.

Terkadang dorong bunuh diri itu terlalu menarik, begitu gelap, sederhana dan menenggelamkanku.

Sebelum ujian aku pernah melukai pahaku sendiri ketika duduk mengerjakan PR. Rasanya menyakitkan, tapi saat bersamaan aku ingin menenggelamkan silet lebih dalam lagi. Maka aku merasa baik. Tapi aku tidak melakukannya.

Malam itu aku mimpi buruk, mimpi marah-marah seperti biasa jika aku menahan emosiku seharian. Aku marah pada orangtuaku, pada guru, dan semua orang yang kubenci. Mereka berkumpul di satu ruangan dan aku berpidato menyampaikan amarahku sambil memukul-mukul meja seakan ingin menghancurkannya. Aku terbangun ketika kakiku menendang dan memecahkan kaca penutup rak buku.

Ibuku berlari ke kamarku. Aku lega dengan kenyataan bahwa aku bisa mengaku aku mengigau, dan bukan karena sedang kumat. Walau tetap saja, rak bukuku jadi jelek sekarang. Engsel-engselnya tetap terpasang dan pemandangan itu selalu mengingatkanku pada pagi yang membingungkan saat aku menendangnya…

Silvia, liburan ini aku berencana mengunjungimu. Malam ini catatanmu akan habis kubaca. Bersiaplah menyambutku. Ini saat yang tepat seperti yang kau katakan.

***

Silvia, catatan terakhirmu membuatku merasa bersalah. Kau pasti kecewa karena aku tidak menepati janjiku mengunjungimu. Bukan karena aku terlalu gugup. Tapi terjadi sesuatu.

Dimulai saat Rani dan aku pergi ke toko buku, aku setuju menemaninya membeli komik. Saat itu memang bukan kondisi terbaikku. Paginya aku agak tegang karena tetanggaku kedatangan tamu dan mereka mengobrol tertawa-tawa sejak malamnya. Dan kukira bepergian bersama Rani bisa mengalihkan pikiranku.

Tiba-tiba hape yang dipegangnya meleset dari jemarinya dan jatuh ke lantai. Kekagetan kecil itu berubah menjadi serangan panik yang mengambil alih seluruh diriku. Aku berjongkok, rasanya seperti meleleh dan mati rasa, dan aku hampir menangis. Sekujur tubuhku dingin, lemas dan jantungku berdegup kencang seperti bukan bagian dari tubuhku lagi…

Beberapa orang memerhatikan kami. Rani sempat bingung karena dia tahu itu ada hubungannya dengan kondisiku, tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Aku minta untuk keluar sebentar, tapi dia mengikutiku. Aku hampir tidak menyadari keberadaannya saat aku mendatangi petugas cleaning service dan menanyakan toilet. Aku masuk dan nekad mereguk air keran dan, entah karena itu, atau karena aku sudah merasa di tempat yang aman, langsung menyegarkan pikiranku. Wajahku terasa dialiri darah lagi.

Aku mendongak dan melihat bayanganku di cermin, lalu bayangan Rani yang mendekat ragu-ragu. Wajahnya kelihatan cemas. Dahinya berkerut, padahal biasanya ada tawa dan keceriaan disana.

Dia tanya apakah aku tidak apa-apa dan aku bilang ya. Aku minta maaf padanya. Dia bilang tidak apa-apa.

Aku menunggu di depan toilet sementara Rani kembali dan membayar komiknya.

Sesuatu yang mengagetkan terjadi. Kami berjalan ke motorku, dengan Rani memegangi tanganku tanpa ragu. Agaknya dia tidak sadar saat melakukannya. Dia terbiasa menjaga adik-adiknya, kurasa kebiasaan itu terbawa ketika ia melihatku dalam kondisi yang ‘tidak berdaya’.

***

Silvia, aku dan Rani bicara banyak tentangmu. Dia, dan aku tentu saja, mengagumi catatan-catatanmu, dengan cara yang kami pahami sebagai remaja. Kau mungkin tidak perlu menduga alasan aku mengaguminya. Sementara menurut Rani tulisan-tulisanmu sangat menginspirasi dan bisa menjadi buku pengembangan diri yang dicari banyak orang. Dia setuju denganku mengajukan naskahnya ke penerbit. Tapi sekali lagi, itu tergantung pada persetujuanmu. Aku bahkan belum menemuimu.

Setelah peristiwa di toko buku, aku pikir, dengan keberadaan Rani, semua akan jadi lebih baik. Ternyata aku salah, dan inilah mengapa surat ini kupisahkan dan agak penting.

Selepas maghrib aku memaksakan diri untuk tidur. Aku merasa sangat tidak nyaman, tapi tubuhku lemas karena terlalu banyak istirahat, dan aku tidak bisa bangkit kecuali membuka mata dan tertidur lagi dengan perasaan sangat buruk. Puncaknya, tiba-tiba saja pikiranku terbangun dan segar oleh amarah tak terkendali sekitar jam setengah sebelas malam. Udara agak hangat dan itu semakin memicu stresku.

Aku menarik laci hingga lepas dari selanya, jatuh ke lantai, kayunya pecah dan aku berjongkok mengambil silet diantara pak amplop dan catatan-catatanmu. Aku membuat dua sayatan cepat yang merobek kulit pergelangan kiriku hingga terbuka seperti kulit pohon.

Rasanya sangat melegakan ketika darah pertama mengucur. Lalu alirannya menjadi tak terkendali, dan lantai kamarku seolah dibanjiri segelas darah segar. Ibuku menerobos masuk dan langsung menangis tanpa suara karena shock sambil menyergapku dengan tubuhnya yang kurus lemah, mengguncang-guncang tanganku yang memegang silet sekeras yang ia bisa.

Aku menoleh pada ibuku dengan ekspresi bingung. Karena, selain agak panik melihat darah sebanyak itu dalam hidupku, sebenarnya aku merasa baik-baik saja. Udara malam yang masuk dari jendela jadi terasa segar ketika ibu meninggalkanku untuk memanggil ayah.

Cahaya lampu-lampu terlihat begitu indah dan terang, aku tersenyum lebar dan rapat memandang langit gelap dengan perasaan se-ringan bulu. Tapi ketika ayahku datang, aku buru-buru menerobos pintu, bergegas menuju kamar mandi, tak berani menatap wajah ayah.

Lama kutatapi tanganku yang kini tertutupi darah yang mengering. Terasa agak perih ketika aku meregangkan kulit yang robek, darah kering pecah-pecah dan terasa menusuk kulitku, aroma besi berkarat memenuhi hidungku.

Semakin pedih ketika kubasuh semua itu dengan air yang dingin. Seakan rasa sakitnya terulang lagi tapi diperlambat…

***

Silvia, setelah beberapa kali aku menolak bertemu, kemarin Rani muncul di rumahku bersama Nona. Aku mendengar dari ambang pintu kamarku ketika ibu meminta maaf karena aku sedang sakit dan tidak bisa diganggu. Tak lama mereka pergi, menitipkan salam untukku.

Aku memandangi perban di pergelangan tanganku. Saat itu aku sangat ingin bertemu denganmu, mungkin dengan semacam perasaan bahwa aku memiliki bukti bahwa aku senasib denganmu. Tapi aku belajar darimu bahwa kita tidak bisa menilai orang dari anggapan pribadi semata. “Ada banyak macam realitas yang hanya bisa kita toleransi jika mempelajarinya dari dekat…dan belajar mencintai rasa damai ketimbang kebenaran atas pemikiran yang sempit.”

Aku tidak bisa membayangkan apakah kondisimu tenang atau sedikit gemetar atau bahkan sedang sedih ketika menulis catatan-catatanmu. Terkadang aku merasa kau sedang menasehatiku atas kelemahan kepribadianku sebagai remaja labil. Terkadang, kau seperti ibu yang sangat penyabar dan penyayang.

Tapi aku percaya kau orang yang baik…

***

Silvia, hari ini aku bertemu Rani di jalan. Dia menanyakan kenapa aku tidak menjawab telepon ataupun SMS-nya. Dia menanyakan keadaanku. Jaketku menutupi perban di pergelangan. Aku bilang maaf dan aku sudah sehat jadi dia tidak usah khawatir.

Lalu dia memegang tanganku secara spontan lagi, sambil berkata dia mencemaskanku. Dia bilang masih merasa bersalah karena kejadian di toko buku. Aku bilang itu bukan salahnya, dan aku menepuk pundaknya. Ya, aku menepuk pundaknya. Kau mungkin tertawa saat membaca ceritaku ini…

Aku terkejut saat ibu jarinya mengelus tanganku dan ia menemukan perban dibalik lengan jaketku. Rani menarik keatas lengan jaketku dan dengan nada lirih bertanya itu apa. Dia sudah bisa menduga itu apa, tapi ia menatapku dan menunggu penjelasan dengan mata bersinar penuh emosi. Seolah ia siap membakarku dengan tatapannya itu.

Aku merasa bersalah sekali malam itu. Dia tidak menunggu lebih lama ketika aku bingung mencari jawaban, dan pergi meninggalkanku dengan sikap dingin yang tak pernah kulihat darinya.

Malam itu juga, aku berusaha menghiburnya dengan ideku untuk menemuimu. Tapi dia masih agak kesal. Dia bilang terserah dan tidak membalas lagi.

***

Silvia, hari ini aku melangkah pertama kali ke yayasan jiwa ini, setelah dua tahun melewatinya hampir setiap hari.

Aku mengira bagian dalam tempat ini akan terlihat sangat murung dan gelap. Tapi ternyata tidak jauh berbeda dengan kantor-kantor atau sekolah bertingkat.

Aku memberitahu suster ingin menemuimu. Sesaat aku harus meyakinkannya bahwa kau tahu aku akan datang. Dia memutar bola matanya lalu berbalik dan bersenandung kecil saat menghilang ke ruangan lain.

Hampir lima menit aku duduk di bangku bercat putih, menatap dan membaca ulang poster-poster tentang dampak psikis narkoba dan cara mengenali stres dan depresi.

Tatapan dokter itu tidak menyenangkan, seolah menilai penampilanku baru bertanya ringan dan pongah, ada keperluan apa menemuimu. Dia muncul bersama suster yang tadi dengan pakaian dokter dan lipstik merah menyala. Namanya Dr. Rosa.

Dia bertanya siapa aku, apakah aku tahu kondisimu, dan apakah keperluanku darurat.

Aku berusaha menjawab sejujurnya. Aku mengatakan padanya bahwa kau kenal aku dan kita berbalas surat selama setahun terakhir.

Aku hampir mengatakan padanya bagaimana kita melakukannya, tapi kemudian Dr. Rosa bilang bahwa, “Pasien Silvia tidak bisa ditemui sembarang orang. Dia menderita schizofrenia dan kejiwaannya tidak stabil. Kalau dipicu percakapan yang salah dia bisa menyakiti diri sendiri. Kamu mengerti apa akibatnya?”

Hatiku ciut, tapi entah kenapa aku merasa dokter itu bicara dengan orang yang salah. Lalu aku diam, berpikir sebentar, dan mengucapkan terimakasih sebelum meninggalkan yayasan.

Kita tidak jadi bertemu hari ini. Maafkan aku. Tapi aku memiliki sebuah ide.

***

Silvia, maaf aku harus menunggu sekolah dimulai sebelum menulis surat lagi. Aku tidak tahu harus mulai darimana. Tapi setidaknya kini kita bisa bertemu langsung. Entahlah.

Butuh hampir seminggu sampai akhirnya aku bisa membujuk orangtuaku memberiku pengobatan untukku di yayasan itu, ketimbang di RSJ negeri. Aku mendapat diagnosa Bipolar dan anxietas.

Aku harus bertahan menghadapi tatapan Dr. Rosa dan cengiran gugup suster yang menyembunyikannya dibalik bahunya. Mereka tidak mengerti mengapa aku sangat ingin bertemu denganmu.

Aku dirawat inap setelah berusaha membesarkan hati orangtuaku agar tidak perlu malu dan bahwa semua ini baik untukku. Bahwa aku akan menggunakan ini sebagai pengalaman yang menguatkanku.

Perban lukaku diganti dengan yang baru. Aku mendapatkan makanan yang, jujur saja, tidak seenak masakan ibuku.

Menjelang malam, aku hampir tidak percaya ketika menanyakan apakah aku bisa bertemu denganmu, pada suster yang merawatku. Dia memandangku seolah aku menanyakan dimana toiletnya. Lalu aku paham bahwa dia hanya berusaha menghaluskan reaksinya karena aku tidak bisa semudah itu bertemu dengan pasien tertentu.

“Tanya dokter dulu ya…” ujarnya halus tapi tak menatapku.

Dia tidak kembali sampai saat malamnya Dr. Rosa menemuiku sebelum ia pulang. Ia mengingatkanku lagi soal obat-obatan yang harus kuminum. Lalu dia menjelaskan tentangmu.

“Silvia hampir 8 tahun sudah ada disini. Dia pasien yang agresif,” katanya, yang membuatku merasa kini dia mulai lebih menghargaiku sebagai orang muda yang cerdas dan terbuka. “Hampir seluruh waktunya dia habiskan mencoba bunuh diri atau menghancurkan barang-barang…”

“Apa yang dia lakukan saat tenang?” tanyaku.

“Dia diam dan menulis di meja. Tapi dia menolak menunjukkan apa yang dia tulis. Dan kami tidak tahu dimana dia menyimpannya.” Ekspresi Dr. Rosa berubah, seolah menyadari sesuatu dan memandangku. “Astaga. Dia menyuratimu, ya? Kamu sekolah di sebelah kan?”

Aku tersenyum malu.

Dr. Rosa tersenyum lebar menampakkan gigi-gigi putihnya. “Hmm siapa sangka ya…” Dia menggeleng kecil dan merapatkan senyumannya. “Bagaimana kalian melakukannya?”

Aku menjelaskan tentang lubang di kawat penyaring udara di kamarmu.

“Apa yang kalian obrolkan?”

“Saya menceritakan kondisi saya padanya sejak setahun terakhir. Dia memberi saya pandangan-pandangan yang…indah…” aku canggung saat mengucapkannya, “…tentang bagaimana seharusnya semua orang melihat kehidupan. Dia memberi saya banyak nasehat tentang toleransi dan melihat masalah dari sudut pandang orang lain…”

Dr. Rosa memandang suster yang langsung merapatkan bibirnya yang setengah terbuka.

“Saya suka tulisan-tulisannya. Tapi dia tidak pernah menulis dari sudut pandang dirinya langsung. Dia tidak pernah menulis tentang kehidupannya, bahkan dia tidak pernah menulis dengan kata ‘saya’ atau ‘aku’.”

Aku melihat Dr. Rosa mengangguk padaku, menurunkan sedikit senyumannya. “Yah, saya mengerti.”

***

Silvia, malam itu juga, aku bertemu denganmu. Meski kau tidak bertemu denganku.

Aku terbangun pukul setengah dua ketika mendengar ribut-ribut di ujung komplek yayasan. Sensasi dingin di tempat asing sempat membingungkanku. Aku melihat teman sekamarku berguling ke kiri dan tidur lagi. Namanya Dimas, dan aku hampir membangunkannya, tapi aku memutuskan untuk keluar sendiri.

Pintu dikunci. Dari luar aku mendengar seorang suster berkata lirih menyebut namamu. Langkah-langkah kaki berlari di ubin semen dan aku mulai menggedor. “Siliva! Silvia! Suster!” aku tidak tahu apa yang kukatakan tapi aku ingin menemuimu. Aku tahu kau sedang dalam masalah.

Kemudian kudengar suster berbincang sambil berteriak-teriak dengan seorang pria dan menyebut-nyebut ambulans.

Kugedor lagi pintu sampai Dimas bangun. Dia terduduk dan menatapku. Kumisnya tampak layu di wajahnya, tatapannya seperti orang yang sudah terjaga sejak tadi.

Aku menggedor lagi dan saat itu kurasakan tubuh lain menyerobot tempatku. Dimas mendorongku ke samping dan ia mulai melompat dan memukul, melompat dan memukul, dengan tinjunya, pada puncak pintu. Grendel diluar jatuh terbuka, lalu ia menjulurkan tangan kebawah, meraih paksa melalui kayu pintu yang tua dan lentur dan membuka grendel di bawah. Kemudian, seolah tidak melakukan apa-apa, ia kembali ke tempat tidurnya dan memejamkan mata dengan mulut setengah terbuka.

Aku memandanganya sebentar, tidak tahu harus mengucapkan terimakasih atau apa. Lalu kutarik daun pintu dan diluar suasana begitu penuh ketegangan.

Kemudian aku melihatmu. Dua suster dan seorang pria lewat menggotong tubuhmu, berbalut baju pasien, dan simbahan darahmu sendiri. Kuperhatikan darah itu mengalir dari kepalamu.

Rambutmu yang panjang lurus tergerai, basah oleh keringat dan darah. Gelang medis menggantung longgar di tanganmu yang terjulur keluar.

“Silvia!” aku memanggilmu, diselimuti rasa cemas. Pikiran acak terasa menyakitiku. Sekolah, Rani, orangtuaku, surat-surat kita…

Aku hanya tiga meter darimu ketika seorang suster menarikku paksa kembali ke dekat pintu kamar. Baru aku sadar aku sudah menerobos keluar.

Aku tidak melawan ketika digiring kembali ke kamar. Setelah pintu ditutup, aku baru menyadari betapa aku ingin menjengukmu. Tak lama kemudian kudengar ambulans menyalakan lampu dan suara sirene. Aku duduk di samping ranjangku dan menutup telinga.

Kesunyian yang menyusul setelahnya tidak kurasakan karena pikiranku begitu penuh. Kuhabiskan waktu dua jam mondar mandir dan menggaruk-garuk perbanku. Aku berakhir kelelahan dan memukul-mukul perbanku dan mulai menggedor-gedor pintu lagi.

Ketika suster datang dan membuka pintu, aku ingin menanyakan tentang keadaanmu tapi aku merasa ingin muntah. Suster bertubuh kecil itu tak menunggu lebih lama untuk menggiringku ke tempat tidur dan memberi suntikan penenang.

Aku tidur sampai jam 9. Dr. Rosa memaksaku untuk ikut yang lainnya saat jam olahraga sebelum makan siang. Tapi aku menyerah ketika seorang pasien botak melempar bola basket ke dadaku dan memandangku seperti anak populer di sekolah memandang seorang murid pecundang.

Dr. Rosa akhirnya melayani pertanyaan-pertanyaanku dengan setengah enggan. Dia bilang, sambil menahan diri, bahwa kau melompat dari lantai dua dan kepalamu membentur jalan setapak dari batu.

Silvia, kau meninggal keesokan harinya…

Jika aku seperti orang lainnya, aku mungkin menangis dan terjatuh. Tapi, Silvia, aku merasa terlempar kedalam kehampaan. Seolah bahwa aku tidak tahu alasanku cemas terhadap banyak hal tidak lagi relevan. Aku tidak tahu lagi kenapa aku ada disini, dan bukannya di jalan dan berkeliaran saja tanpa arah. Aku mengalami keterputusan dengan dunia nyata sejak kau meninggal.

***

Silvia, terkadang suster-suster disini terasa begitu kasar, tidak sensitif dan menyebalkan. Terutama ketika aku memasuki masa depresi. “Ngapain kamu disini!” aku akan berteriak ketika melihat mereka masuk membawa obat-obatku. Dan aku bisa melihat mereka lebih suka menangani pasien-pasien yang bertingkah agresif dan acak ketimbang yang verbal sepertiku.

Tapi saat aku memasuki hypomania, aku memandang tempatmu jatuh malam itu, dan semangatku timbul untuk segera sembuh dan mengunjungi keluargamu. Aku berbagi makananku dengan Dimas dan bercerita tentangmu dan surat-surat kita. Aku mengajak bicara suster-suster menanyakan tentangmu, kebiasaanmu.

Mereka tahu saat kondisiku cukup baik untuk diladeni.

Salah satu suster bercerita padaku, “Silvia sudah 8 tahun disini,” katanya, seolah mengulang cerita Dr. Rosa. “Waktu umur 20an dia pernah dirawat disini tapi cuma beberapa bulan. Setelah bekerja penyakitnya kambuh lagi. Dia masuk lagi saat umur 32. Keluarganya jarang berkunjung. Mungkin cuma dua atau tiga kali. Sekali lagi yang berkunjung adalah pacarnya, yang katanya calon suami si Silvia. Tapi setelah itu nggak pernah ada yang berkunjung lagi.”

“Seperti apa wajah Silvia?”

Suster itu menatapku dengan lebih banyak perhatian dan tersenyum simpul. Ia menyuruhku minum obat lalu berjanji akan mengajakku melihat fotomu.

Dia membawaku ke dekat aula. Di depannya terdapat sebuah papan pengumuman yang ditempeli berbagai brosur, daftar dan foto-foto kegiatan yang diadakan di yayasan.

“Dulu Silvia itu cantik lho, mas.” Suster itu menyebutku ‘Mas’ dan bukannya tanpa panggilan. Jari kurusnya menunjuk ke salah satu foto.

Silvia, itu fotomu, diantara orang-orang , dokter dan suster. Kau kurus dan berkulit putih pucat. Matamu sembab dan mengecil seperti orang berkacamata saat melepas alat bantu penglihatannya. Tapi pandanganmu teduh dan aku tahu kau memang cantik saat kondisimu masih segar. Aku hampir mengira kau keturunan Cina atau Jepang.

Senyummu simpul seperti anak kecil berjiwa tua yang tidak mau kelihatan terlalu senang dengan hiruk pikuk yang terjadi. Aku duga itu adalah saat diadakan semacam lomba 17 Agustus-an di yayasan. Tidak ada tanda atau spanduk di fotonya, tapi salah satu pasien memegang piala tinggi.

Suster menunjukkan lagi dirimu berdiri menyempil bersama lebih sedikit orang. Tapi ekspresimu datar tampak tidak senang.

Di setiap fotomu, rambutmu selalu digerai panjang, hitam seperti sikat yang halus.

Aku tersenyum ketika melihat salah satu foto, dimana seorang suster berfoto narsis dengan pasien gemuk botak, sementara di belakangnya, kau duduk di kursi, melirik tanpa ekspresi ke samping kearah kamera…di tangan kirimu, kau memegang pena hitam diatas dua lembar kertas.

“Dia kidal?” tanyaku spontan.

Suster menjawab ya.

***

Silvia, aku menghabiskan satu bulan setengah di yayasan jiwa. Sisanya kuputuskan berobat jalan di rumah. Aku harus mengejar ketinggalan setelah sekolah dimulai. Orangtuaku berkata pada sekolah bahwa mereka membawaku untuk cek kesehatan di luar negeri. Yang memang dilakukan pada dua hari terakhir, aku melakukan CT scan di Penang tapi mereka tidak mau memberiku obat untuk syaraf sampai aku berhenti dari pengobatanku yang sekarang. Jadi aku akan menjalani apa yang ada saat ini, dan aku mensyukurinya.

Awal pengobatan memang terasa mengerikan. Egoku begitu besar untuk berhenti dan merasa muak terhadap segala omong kosong dan keputusanku datang ke tempat itu, ditambah lagi dengan apa yang terjadi padamu.

Tapi percaya atau tidak, dan kurasa kau percaya, aku selalu mengenang saat melihatmu digotong bersimbah darah malam itu, setiap kali aku ingin mengingat “pertemuan” kita. Aku tidak merasa takut atau menyesal, terlebih setelah membaca surat-suratmu yang tak kubaca sebelum Rani memberikannya. Aku hanya merasa, terkadang, begitu ingin memegang tanganmu dan mendengar suaramu.

Rani melalui semuanya bersamaku. Dia, secara misterius, menjadikan dirinya lebih kuat dan bijaksana. Dia mengobrol dengan teman-temannya seperti biasa, tapi mengawasiku dari jauh. Dia mengambil dan membaca surat-suratmu selama liburan sekolah hingga saat aku tidak ada karena berada di tempat yang sama denganmu.

Aku akan butuh waktu untuk memahami kaum hawa. Seolah ia tidak mengingat kekesalannya malam terakhir sebelum aku memulai hari-hariku di yayasan. Seolah ia tidak ingat bahwa dia hanya baru mulai benar-benar mengenalku.

Tapi kemarin dia bilang padaku, saat kami makan eskrim di rumahnya, bahwa, “Aku merasa sudah mengenal kamu sejak lama. Seolah apa yang kita bicarakan hari ini cuma melanjutkan apa yang dulu sudah biasa kita lakukan.”

Aku sulit percaya pada kata-katanya. Tapi kemudian kuperhatikan dia makan eskrim. Aku merasakan sesuatu yang kukenali darinya. Ya, aku tahu sesuatu pada Rani mengingatkanku pada mimpi-mimpiku. Bagaimana menjelaskannya…

Misalnya, jika aku bermimpi bertemu mendiang kakekku, lalu aku memeluknya dengan rasa rindu dan permintaan maaf, itu adalah perasaan yang sama seperti saat Rani di dekatku. Saat aku bermimpi dikejar pembunuh di hutan lalu menemukan pondok kecil yang menjadi satu-satunya harapanku, cahaya kuning hangat di jendela pondok itu memiliki suasana yang sama dengan rasa aman ketika Rani menanyakan bagaimana perasaanku hari ini, atau saat dia menyuruhku menunggu untuk pulang sekolah bersama (tahun ini kami masuk di kelas yang berbeda).

Lalu suatu hari kami tinggal di sekolah lebih lama, aku menemaninya menunggui temannya yang melatih junior ekskul pecinta alam. Dia duduk di sampingku dan secara refleks aku mengambil makanan ringan dari kantong di tangannya. Kami makan dengan tenang sampai tiba-tiba dia berkata, “Kita kayak orang pacaran ya, Ri…”

Aku terus mengunyah tapi berhenti mengambil makanannya. “Sama aja kok,” kataku setelah ia memandangku.

“Apa?”

“Pacaran atau bukan, perasaanku tetap sama.”

“Perasaan apa?” Rani menunduk dan membersihkan roknya dari remah makanan. Aku tahu dia berusaha menyembunyikan wajahnya.

“Aku takut pacaran akan jadi alasan untuk putus, sementara perasaanku tetap sama walau kadang kita saling kesal.”

Rani menengadah dan menyandarkan kepalanya di dinding. Dia bersikap seperti anak kecil yang menyebalkan lagi, tapi aku tahu dia memikirkannya. “Aku juga nggak peduli kok… Tapi, bagaimana reaksimu kalau aku duduk berduaan seperti ini sama cowok lain?”

Aku memandang ke seberang lapangan, ke bangku di depan kelas lain seolah membayangkan dia duduk bersama anak lain disana. “Aku bisa menanyakanmu langsung. Atau SMS.”

Rani tertawa pendek. Dia mencubit pelan lenganku dan kembali makan makanan ringannya.

“Boleh juga tuh,” katanya. “Aku juga nggak begitu paham mekanisme pacaran itu kayak apa.”

Aku meliriknya. “Kalau kamu mau, kita bisa sebut saat ini kita pacaran, tidak harus ada yang berubah.”

Rani tidak langsung menjawab. Tapi aku merasa di agak senang sekaligus terbebani dengan gagasan itu. “Kamu benar. Sekarang aku mengerti. Aku merasa kita sudah kenal sejak lama, dan kamu bilang perasaanmu tetap sama. Kurasa kita memang ditakdirkan seperti ini.”

Seperti ini…berarti baik atau buruk?”

“Tadinya aku pikir agak menyedihkan karena kamu belum mengungkapkan apapun padaku. Tapi, aku tahu sekarang, tidak ada yang harus berubah. Ini… Ini baik, Eri. Ini baik.” Dia memandangku langsung ke mata dan tersenyum. Lalu berpaling lagi untuk makan makanan ringannya.

Aku merasa sedikit lebih dekat dengan Rani hari itu. Dan aku mulai lebih peduli padanya. Dalam hati, aku merasa harus menyesal karena aku tidak bisa memberikan lebih meskipun ia selalu di dekatku.

Malam itu, aku mengiriminya SMS, “Mungkin butuh waktu sampai “Aku mencintaimu” layak kuucapkan dengan bersuara. Good night, Ran. See ya 2morrow.

***

Silvia, dalam depresi dan keraguanku, aku membayangkan memegang tanganmu dan mendengarmu menyampaikan kata-kata dalam tulisan-tulisanmu.

Dalam kepercayaan diri dan kegembiraan palsuku, aku mencoba menahan agar tidak menulis padamu karena aku takut kau mengetahui hal-hal ceroboh yang kupikirkan.

Rani dan aku sedang mengumpulkan uang untuk membiayai self-pubslihing bukumu. Naskahnya sudah setengah diketik. Aku melakukan ini untukku, dan untuk kenanganku bersamamu.

Rani menghadapi amarahku pertama kalinya saat kami berargumen tentang jurusan mana yang harus kuambil saat kuliah nanti. Kami mulai dengan perbincangan emosional tanpa nada tinggi atau apapun. Lalu kami berpisah dengan perasaan buruk.

Malamnya aku meneleponnya dan marah-marah menyampaikan kecurigaanku yang berlebihan bahwa dia menghakimi penilaianku dan cara berpikirku yang delusif.

Sekali lagi dia mengejutkanku dengan kesabaran dan kebijaksanaannya. Dia mematikan telepon dan mengirim SMS, “Jangan marah. Baru bicara.”

Tapi besoknya dia yang balik kesal padaku, mengomel bahwa aku harus bisa mengendalikan emosiku dan mengingatkanku tentang “buku Silvia” yang sedang kami kerjakan. Tapi bagaimanapun, dia tetap peduli. Dia mengingatkanku agar berusaha untuk tidak berbuat apapun ketika sedang marah.

Dia menanyakan bagaimana perasaanku dan bilang dia mau makan di kantin.

“Boleh aku ikut?” kataku. Dia menghadap keluar dan menungguku bangkit seolah tidak terjadi apa-apa. Dia tetap berjalan bersamaku, di sisiku.

***

Silvia, terjadi sesuatu yang menggembirakan. Kebiasaanku mengirimu surat berkembang diantara suster dan seluruh yayasan.

Sekarang aku bisa mengirimu surat lagi karena mereka begitu murah hati membuatkan sebuah kotak khusus di sebelah makammu. Tidak ada keterangan apapun kecuali kotak kaleng besar diatas rangka kayu, seolah mereka membuatnya khusus untukku…

Aku mengucapkan terimakasih ketika Dr. Rosa menunjukkannya, sebelum ia pergi dengan mobilnya. Aku dan Rani tinggal di makam, memasukkan beberapa surat yang kutulis sebelumnya, termasuk yang ini.

Silvia, setelah melalui pengalaman awalku yang cukup berat menyesuaikan diri dengan pengobatan dan memiliki Rani dalam lingkaranku, aku memiliki kesempatan lebih besar mempraktekkan semua yang kau ajarkan. Tentang cinta kasih, toleransi, dan kesabaran.

Kau tahu sejak awal… Silvia, kau mengetahui bahwa satu-satunya alasanku begitu banyak mengeluh dan merengek adalah karena aku belum benar-benar berada di tepi jurang. Dan ketika aku sadar apa saja hal buruk yang bisa kulakukan, aku tidak punya pilihan lain selain memperbaiki diri.

Dengan Rani, orangtuaku, dan semua orang yang masih menyayangiku, aku tahu aku selalu punya alasan yang baik untuk melakukannya.

Terimakasih, Silvia. Aku menyayangimu…

– Eri

[Flash Fiction] Reinkarnasi

Pendulum kristal itu mengayun. Kata Mas Prana, saya pernah hidup sekitar seribu tahunan yang lalu. Hidup saya itu antara baik dan buruk, sifat dasar saya tidak menyakiti orang lain, tapi saya sering mengusik orang sehingga saya bereinkarnasi untuk menebus karma.

Hidup saya kini penuh hal-hal memalukan dan merugi. Saya sering berpikir dunia tidak mengijinkan saya untuk mengeluh dan teruslah saja jadi badut yang tidak pantas bersedih. Tapi sebenernya, apapun yang tersisa di tangan saya, itu masih bisa saya bagikan sebagian untuk orang lain.

Dulu hidup saya lebih sederhana. Karena dulu, kata Mas Prana, saya itu semut hitam kecil yang tidak pernah tidur.

Harapan Baru

Herni pergi. Karena tidak sanggup hidup miskin dengan suaminya Restu yang hanya menjajakan roti dengan sepeda tuanya setiap hari.

Suatu hari perempuan itu pergi dengan tangisan membasahi wajahnya. Hari itu Restu cidera kakinya. Laki-laki itu terjatuh berkali-kali sambil berusaha mengejar istrinya.

Dua hari berlalu tanpa ia sadari. Baru dia sadar apa yang telah terjadi, seolah mengalami hantaman pada jiwanya. Restu jatuh tersungkur, menangis. Ia tidak pergi bekerja hari itu.

Suatu hari terjadi ribut-ribut di gang sempit itu. Restu yang baru saja pulang kembali bangkit untuk bergabung dalam keramaian.

Sugro anak tetangga ditemukan pingsan di rumahnya yang ditinggalkan kosong. Ketika sadar dia bercerita bahwa Bapaknya yang suka memukulnya itu pergi ke luar kota semalam. Karena merengek berusaha mencegah supaya Bapaknya tak jadi pergi, dia justru kena damprat.

Ayah yang hebat itu melempar tubuh anak itu menghantam dinding dan sebuah foto pernikahan. Dan disanalah semuanya berawal, atau berakhir, ngomong-ngomong.

Restu mengusulkan agar anak itu tinggal bersamanya untuk sementara. Ya semua orang akhirnya jadi tahu tentang kepergian Herni, tapi apa boleh buat. Situasi yang ada sekarang lebih penting.

Ibu Sugro sudah lama tidak memberi kabar sejak pergi menjadi TKW di Arab Saudi. Jadi, praktis anak berumur 11 tahun itu tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini.

Mina, gadis dari gang sebelah datang ke rumah Restu sambil membawa satu set rantang. Wajahnya terlihat cemas, dan sambil mengucap salam ia langsung duduk bersimpuh di samping anak itu dan menawari, sebenarnya agak memaksa, makan.

Seorang ibu tak lama menyusul masuk ke rumah. Restu tak bisa bilang apa-apa, hanya duduk memerhatikan kedua perempuan itu merawat Sugro yang menatap bingung ke segala arah.

Itu ketika Restu menandai sesuatu di belakang leher Sugro kecil. Dengan segera ia menarik leher kaosnya dan melihat segaris memar yang panjang dan menghitam.

“Luka-luka, ini badannya…” ujar Restu pelan, memberi petunjuk pada kedua perempuan lain.

Mina menaruh rantang dan sendoknya, berhenti menyuapi. Lalu menarik paksa kaos anak itu hingga terlepas dari badan kurusnya. Perempuan itu menggumamkan nama Tuhan dengan rasa kaget.

Dada, punggung, pinggang anak itu penuh luka memar hingga luka berdarah yang setengah kering.

“Kamu nggak pernah ngomong kalo diginiin sama Bapakmu??” ujar Mina setengah kesal. “Kan ada mpok, uwak, orang-orang sini semua…”

Mata Sugro lantas digenangi air mata. Ia menunduk, malu menunjukkan emosinya.

“Udah lah…” gumam Restu pada Mina. Tapi rasa malu tiba-tiba muncul ketika mata keduanya bertemu. Giliran Mina yang menundukkan kepalanya.

“Jadi si Ugo tinggal disini dulu ya, Restu?” ujar ibu yang sedari tadi duduk di samping Mina.

“Iya, Wak. Nggak apa-apa, biar saya yang rawat sampe kapanpun.” Terdengar seperti sumpah seumur hidup. Mengesankan bahwa Restu bersedia untuk mengasuh Sugro sebagai anaknya sendiri. Dan itu membuat orang yang mendengarnya tersentuh. Tak terkecuali Mina.

Seiring waktu, Mina sering berkunjung untuk memeriksa keadaan Sugro. Rumah dibiarkan Restu tidak dikunci supaya orang-orang bisa datang untuk mengawasi dan membantu Sugro.

“Apa nggak ribet lu ngebiarin rumah bebas dimasukin orang kayak gini? Sampe kapan?” kata Uwak Cici.

“Jadi?” Restu mengundang sugesti.

“Mina lah…” Uwak Cici mendorong dengkul si pemuda dengan setengah menggoda. “Biar ada yang ngerawat lanang-lanang di rumah ini… Bego lu, Tu!”

Restu cuma bisa tertawa. Tapi dalam hatinya, dia memendam rasa yang ragu untuk diungkapkannya.

Mina hanya perempuan biasa. Masih muda, walau tidak berpendidikan tinggi, orangtuanya juga bukan tokoh masyarakat atau orang kaya.

Kali berikutnya Mina berkunjung, Restu mulai melakukan pendekatan lebih jauh. Melihat apakah gadis itu juga tertarik padanya.

Tidak ada drama dalam kisah cinta penghuni gang sempit. Semuanya disimpan di dalam hati, ditunjukkan dalam perbuatan. Pada akhirnya, Restu mengikhlaskan masa lalunya, kehidupan lamanya, menyambut masa depan dan melamar Mina di depan orangtuanya secara jantan dan sopan.

Tidak ada janji muluk-muluk karena dia pun tak memiliki apa-apa. Dia lebih suka menganggap hubungannya dengan calon mertuanya seperti memiliki keluarga baru. Rasa hormatnya tulus kepada Bapak-Ibu Mina, peduli pada urusan keluarga, tapi nggak ikut ngomong kalau memang nggak ngerti, membantu jika memang mampu. Sebelum menikah dia sudah menjadi calon manantu yang baik di mata orangtua Mina.

Bulan berikutnya, sekali lagi Restu mendatangkan Pak Le dari Lampung untuk menjadi wali dalam pernikahannya yang kedua, sebab orangtuanya sudah tiada.

Rumah sempitnya itu mendadak meriah dengan hiasan warna-warni, bunga-bunga tiruan yang mencolok, dan Sugro yang sudah memiliki kembali tawanya dan senang bermain dengan teman-teman sebayanya.

Restu merenungi kesempatan kedua yang ia miliki. Ia tidak tahu harus takut atau bersyukur. “Min…”

“Aku terima abang apa adanya. Jangan ngomongin yang sudah lewat,” kata Mina, seolah membaca pikiran suaminya. “Kalau perlu biar aku bantu abang nyari duit. Untuk kita…dan anak kita.”

Senyuman kecil mengembang di bibir tipis perempuan itu.

Airmata Restu menetes saat mengecup kening istrinya. Tubuhnya bergetar oleh emosi ketika menciumi sekujur lengan Mina dengan penuh rasa cinta.